HIV/AIDS Oleh Tri amalia saud

I. Latar Belakang
A. HIV/AIDS di Dunia
Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2000 lalu melaporkan terdapat 36,1 juta orang terdeteksi mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immuno Deficiency Virus (AIDS). Para pengidap lazim disebut “orang dengan HIV/AIDS (ODHA)” dengan prevalensi yang sangat bervariasi dan rata-rata mencapai 5 persen.
Lebih dari 7,4 juta orang terinfeksi HIV/AIDS di daerah Asia Pasifik, dan sebagian besar adalah para pekerja di usianya yang paling produktif. Setiap hari sekitar 14.000 orang di seluruh dunia tertular HIV/AIDS, 6.000 orang diantaranya berusia antara 15 dan 24 tahun dan akan menjadi generasi tenaga kerja yang akan datang.
Kira-kira 800.000 orang dewasa, 450.000 diantaranya laki-laki, terinfeksi HIV di Asia Selatan dan Asia Tenggara pada tahun 2003. Dengan 150.000 kasus baru pada tahun 2003, Asia Timur dan Pasifik termasuk dua daerah yang masih bisa menahan masuknya HIV/AIDS. Pada akhir tahun 2003, diperkirakan akan ada sebanyak 7 juta ODHA di dua daerah ini.

B. HIV/AIDS di Indonesia
Penyebaran HIV/AIDS masih menjadi ancaman serius hingga saat ini. Bukan saja karena derita fisik yang harus ditanggung orang dengan HIV/AIDS atau ODHA, tetapi juga faktor psikologis (penerimaan masyarakat) dan faktor sosial (stigma dan diskriminasi dari masyarakat) yang masih selalu menghantui setiap penderita.
Saat ini, Indonesia telah masuk ketahapan Epidemi terkonsentrasi atau dalam ilmu epidemi, red epidemic level (tingkat epidemi merah), dalam arti kata lebih dari 5 % kelompok orang perilaku resiko tinggi telah terpapar HIV/AIDS.
Pada situasi seperti ini bangsa Indonesia telah dinyatakan terancam bahaya, antara lain :
1. Bahaya karena akan kehilangan banyak penduduk pada usia produktif.
2. Bahaya karena penduduk yang selama ini dianggap tidak rentan pun beresiko terpapar, misalnya ibu rumah tangga, anak-anak.
3. Bahaya karena akan kehilangan banyak kaum muda pada kirasan usia 14-29 tahun.
4. Bahaya karena pengeluaran anggaran negara yang sangat besar untuk mensubsidi rakyat yang jatuh sakit karena HIV/AIDS.
5. Bahaya karena keluarga-keluarga dalam masyarakat akan mengeluarkan biaya ekstra besar untuk merawat dan membeli obat bagi anggotanya yang terpapar HIV/AIDS.
6. Bahaya karena dana negara dan dana masyarakat (social cost) yang jumlahnya tak terhitung terpaksa harus dibelanjakan untuk membiayai anak-anak yatim korban HIV/AIDS yang ditinggal orang tua mereka.
Di Indonesia pada tahun 2001 diperkirakan terdapat 80.000 sampai dengan 120.000 orang tertular HIV. Data Depkes RI sampai dengan September 2005 tercatat 8.250 kasus HIV/AIDS di Indonesia. Diperkirakan sampai dengan November 2006 terdapat 170 ribu dari total 220 juta jumlah penduduk di Indonesia yang mengidap HIV/AIDS dengan prevalensi sekitar 0,1 %. Menurut estimasi, terdapat 5500 kasus kematian akibat AIDS di Indonesia. Epidemi ini terutama menjangkiti pada pemakai narkoba dengan menggunakan jarum suntik (injecting drug users/IDU) dan para mitra seksual mereka, mereka yang melakukan praktik pelacuran, dan para pria yang melakukan hubungan seksual sesama jenis.
Pada tahun 2004, dari semua kasus HIV yang dilaporkan, 43,3 % kasus disebabkan oleh hubungan heteroseksual dan 44,1 % kasus akibat IDU. Dan sepanjang tahun 2006, di Indonesia terdapat 6.987 kasus HIV/AIDS, tapi estimasi sementara jumlah tersebut bisa mencapai 193.000 kasus atau pada kisaran 169.000 hingga 216.000 orang. Ini karena kemungkinan besar banyak dari penderita yang tidak tahu kalau mereka sudah terjangkit virus HIV. Prevalensi HIV/AIDS di Indonesia pun menigkat tajam di beberapa wilayah, khusunya di Jakarta dan Papua.
Jakarta masih mendominasi jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia sejak Januari hingga September 2006. Data Depkes menunjukkan bahwa dari 6.987 kasus di 32 provinsi, Jakarta mendominasi dengan 2.394 kasus. Terbanyak di Jakarta Pusat sebanyak 958 kasus.
Dari sekian banyak kasus yang ditemukan di Papua, sebagian besar penularan HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seksual. Dari data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Provinsi Papua, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS sampai dengan Maret 2006 mencapai 2.199 kasus, tersebar hampir di semua kabupaten/kota. Data tersebut adalah kasus yang ditemukan dan dilaporkan, tetapi sesungguhnya masih banyak di masyarakat mengingat HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es.
Dari penduduk Papua berusia 15-19 tahun sebanyak 977.200 orang, diperkirakan yang terpapar HIV mencapai 660.000 orang (67,9 %). Berdasarkan estimasi Depkes pada November 2003, HIV/AIDS diperkirakan menulari 14.280 orang yang berdiam di Papua, terdiri atas 10.690 laki-laki pelanggan pekerja seks dan pramuria (37 % atau sekitar 4.700 di antaranya adalah warga asli Papua), 2.800 orang pasangan tetap, dan 790 wanita pekerja seks dan pramuria.
Apabila dilihat dari kelompok umur, mereka yang terserang HIV/AIDS umumnya terdapat pada kelompok usia produktif (20-29 tahun) sebesar 41 %, kelompok umur 30-39 tahun sebesar 25 %, dan kelompok umur 40-49 tahun sebesar 9 %. Hal yang lebih memprihatinkan adalah telah ditemukan beberapa kasus HIV pada bayi berusia kurang dari 1 tahun.
Tak hanya belasan pejabat dan seratus lebih pelajar di perkotaan yang terinfeksi HIV/AIDS. Rupanya penyebaran virus yang mematikan ini justru lebih gawat lagi di wilayah pedalaman Papua.
Hal ini dapat dilihat dari data Dinas Kesehatan Provinsi Papua, salah satunya adalah Kabupaten Pegunungan Bintang. Dari 184 orang yang darahnya dites, sekitar 18 % daru jumlah tersebut sudah terinfeksi HIV/AIDS. Selain itu, Kabupaten Paniai, dari 60 orang yang diperiksa darahnya, terungkap ada 15 % yang darahnya sudah positif HIV/AIDS. Serta di sejumlah kabupaten pedalaman lainnya baik Jayawijaya, Puncak Jaya hingga daerah-daerah lainnya di pedalaman.
Menurut data yang ada, di Papua sejak tahun 2002 hingga tahun 2004 tercatat bahwa ibu rumah tangga lebih banyak yang terinfeksi HIV/AIDS ketimbang pekerja seks. Hal ini tentu sangat memprihatinkan, sebab ibu rumah tangga dalam hal ini sesungguhnya tidak berdosa dan umumnya hanya mendapat virus itu dari suaminya yang sering melakukan hubungan seksual di luar.
Riwayat Jatim dengan HIV/AIDS pun cukup mencengangkan, sebab menjadi provinsi ketiga dengan jumlah kasus terbanyak setelah DKI Jakarta dan Papua. Jatim juga masuk dalam enam provinsi prioritas penanggulangan HIV/AIDS bersama DKI Jakarta, Papua, Bali, Riau, dan Jawa Barat.
Data dari Komite Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jatim hingga November 2006 menunjukkan, jumlah pengidap HIV yang terdeteksi lewat voluntary counseling and testing (VCT) atau tes HIV/AIDS secara sukarela sebanyak 1.091 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 902 orang di antaranya positif AIDS dengan jumlah penderita meninggal dunia sebanyak 244 orang. Saat itu estimasi ODHA di Jatim mencapai 12.741 orang. Di luar orang yang memeriksakan diri secara sukarela melalui VCT, diprediksi masih banyak masyarakat Jatim yang terinfeksi HIV/AIDS. (http://www/aidsindonesia.or.id/index.php)
Sementara itu di Sulawesi Selatan, menurut data Dinkes Sulawesi Selatan, sampai dengan Desember 2005 tercatat 546 kasus, kasus terbesar ditemukan di kota Makassar, dengan jumlah kasus sebanyak 485 orang. Sedangkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan sampai September 2006 terlaporkan 274 orang menderita AIDS dan 723 orang terinfeksi HIV dan tersebar di 23 Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Jumlah ini akan terus meningkat, jika tidak ditanggulangi.

II. ETIOLOGI (FAKTOR PENYEBAB)
A. Pengertian HIV dan AIDS
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang daya tahan tubuh manusia sehingga sistem kekebalan tubuh manusia dapat menurun tajam bahkan hingga tidak berfungsi sama sekali. Orang yang terinfeksi HIV, cepat atau lambat (sekitar 2-10 tahun) akan menderita AIDS.
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala-gejala penyakit yang timbul karena menurunnya atau hilangnya sistem kekebalan tubuh. Jadi penyebab kematian yang banyak dialamioleh penderita AIDS ini adalah penyakit-penyakit lain yang masuk yang tidak bisa lagi ditolak oleh tubuh karena sistem kekebalan tubuh telah menurun drastis atau hilang sama sekali. Padahal penyakit-penyakit ini (seperti jamur, basil, beberapa jenis virus, dan lain-lain) tidak menyebabkan kelainan yang sangat serius pada orang normal, bhakan kadang kala tidak menimbulkan gejala sama sekali.

B. Faktor Penyebab
Pada umumnya, faktor-faktor yang menyebabkan seseorang bisa tertular HIV/AIDS, karena seringnya mengganti pasangan dalam melakukan hubungan seks, dan juga karena penggunaan jarum suntik bersama-sama khususnya bagi pengguna NAPZA suntik.
Selain itu, penyebab merembetnya HIV/AIDS hingga kepada masyarakat pedalaman di Papua, selain karena kurang paham tentang HIV/AIDS, umumnya disebabkan karena 3 M yaitu man, money, and mobility. Menurut Ketua KPAD Provinsi Papua, Constant Karma, bagi seorang laki-laki warga yang mobilitasnya tinggi dan memiliki banyak uang berpeluang besar untuk bisa membawa penyakit ini hingga ke pedalaman. Dan yang lebih menyedihkan lagi dari jumlah tersebut, beberapa diantaranya adalah perempuan. Karena itu, kaum perempuan khususnya ibu rumah tangga sekarang ini cukup beresiko juga untuk tertular HIV/AIDS.
C. Kerentanan Wanita pada Infeksi HIV
Wanita lebih rentan terhadap penularan HIV akibat faktor anatomis-biologis dan faktor sosiologis-gender.
Kondosi anatomis-biologis wanita menyebabkan struktur panggul wanita dalam posisi “menampung”, dan alat reproduksi wanita sifatnya “masuk ke dalam” dibandingkan pria yang sifatnya “menonjol ke luar”. Keadaan ini menyebabkan mudahnya terjadi infeksi khronik tanpa diketahui oleh yang bersangkutan. Adanya infeksi khronik akan memudahkan masuknya virus HIV.
Mukosa (lapisan dalam) alat reproduksi wanita juga sangat halus dan mudah mengalami perlukaan pada proses hubungan seksual. Perlukaan ini juga memudahkan terjadinya infeksi HIV.
Faktor sosiologis-gender berkaitan dengan rendahnya status sosial wanita (pendidikan, ekonomi, keterampilan). Akibatnya kaum wanita dalam keadaan rawan yang menyebabkan terjadinya pelecehan dan penggunaan kekerasan seksual, dan akhirnya terjerumus ke dalam pelacuran sebagai strategi survival.
Kasus di Ghana (1996) dalam pembangunan Bendung Sungai Volta, menyebabkan ribuan penduduk tergusur dari kampung halamannya. Kaum pria bisa memperoleh kesempatan kerja sebagai buruh dan kemudian menjadi nelayan. Sedangkan kaum wanita yang hanya terbiasa dengan pekerjaan pertanian akhirnya tersingkir ke kota dan terjerumus pada pekerjaan hiburan dan penyediaan jasa seksual. Akibatnya banyak yang menderita penyakit menular seksual (termasuk HIV) dan meninggal akibat AIDS.
Di Thailand Utara, akibat pembangunan ekonomi dan industri yang berkembang pesat menyebabkan lahan pertanian berkurang dan wanita tergusur dari pekerjaan tradisionalnya di bidang pertanian. Sebagian besar kemudian bermigrasi ke kota-kota besar dan menjadi pekerja seks dan akhirnya tertular oleh HIV.

III. TRANSMISI (PENULARANNYA)
A. Penyebaran HIV
HIV sebenarnya hanya dapat ditularkan melalui darah, air mani, dan cairan vagina. Pada cairan tubuh lain juga bisa ditemukan, misalnya pada cairan ASI, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Walaupun kelihatannya HIV itu tidak mudah menular, tetapi semua orang harus waspada karena HIV dapat menyerang siapa saja dan kemudian menularkannya ke orang lain tanpa disadarinya. Secara garis besar, penyebaran HIV dapat kita bagi menjadi empat bagian :
1. Penularan melalui hubungan seksual yang tidak aman sebesar 75-85 % (5-10 % diantaranya melalui hubungan homoseksual).
2. Melalui pemakaian bersama jarum suntik dengan orang yang telah terinfeksi HIV sebesar 5-10 % (terutama pada pemakai narkotika suntik).
3. HIV juga dapat ditularkan melalui transfusi darah atau transfusi organ lain dari seseorang yang terinfeksi HIV sebesar 3-5 %.
4. Dari ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada bayinya, sebelum atau setelah lahir sebesar 90 %. Sekitar 25-35 % bayi yang dilahirkan oleh ibu pengidap HIV, melalui infeksi yang terjadi selama dalam kandungan, selama proses persalinan dan melalui pemberian ASI.
Infeksi HIV sebagian besar (lebih dari 80 %) diderita oleh kelompok usia produktif (15—49 tahun) terutama laki-laki, tetapi proporsi penderita wanita cenderung meningkat.
B. Perjalanan Infeksi HIV/AIDS
Pada saat seseorang tekena infeksi virus AIDS maka diperlukan waktu 5-10 tahun untuk sampai ke tahap yang disebut sebagai AIDS. Setelah virus masuk ke dalam tubuh manusia, maka selama 2-4 bulan keberadaan virus tersebut belum bisa terdeteksi dengan pemeriksaan darah meskipun virusnya sendiri sudah ada dalam tubuh manusia. Tahap ini disebut sebagai periode jendela. Sebelum masuk pada tahap AIDS, orang tersebut dinamai HIV positif karena dalam darahnya terdapat HIV. Pada tahap HIV positif ini maka keadaan fisik yang bersangkutan tidak mempunyai kelainan khas ataupun keluhan apapun, dan bahkan bisa tetap bekerja seperti biasa. Dari segi penularan, maka dalam kondisi ini yang bersangkutan sudah aktif menularkan virusnya ke orang lain jika dia mengadakan hubungan seks atau menjadi donor darah.
Sejak masuk virus dalam tubuh manusia maka virus ini akan menggerogoti sel darah putih yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Setelah 5-10 tahun maka kekebalan tubuh akan hancur dan penderita masuk dalam tahap AIDS dimana terjadi berbagai infeksi seperti infeksi jamur, virus-virus lain, kanker, dan sebagainya. Penderita akan meninggal dalam waktu 1-2 tahun kemudian karena infeksi tersebut.
C. Tahapan Pandemi AIDS
Pada awalnya AIDS dimulai dengan penularan pada kelompok homoseksual (gay). Karena diantara kelompok homoseksual juga ada yang biseksual, maka infeksi melebar ke kelompok heteroseksual yang sering berganti-ganti pasangan. Pada tahap kedua, infeksi mulai meluas pada kelompok pelacur dan pelanggannya. Pada tahap ketiga, berkembang penularan pada isteri dari pelanggan pelacur. Dan pada tahap keempat, mulai meningkat penularan pada bayi dan anak dari ibu yang mengidap HIV/AIDS.
HIV tidak menular melalui :
a. Berpelukan
b. Berpegangan tangan
c. Memakai WC yang sama
d. Kolam renang
e. Air mata atau keringat
f. Memakai piring dan gelas yang sama
g. Gigitan nyamuk

IV. GEJALA KLINIS
Gejala-gejala klinis penderita HIV/AIDS yaitu :
1. Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan.
2. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan.
3. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan.
4. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis.
Selain itu, ada juga gejala-gejala minor yang terjadi pada penderita, antara lain :
1. Batuk menetap lebih dari 1 bulan.
2. Dermatitis generalisata yang gatal.
3. Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang.
4. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita.

V. WAKTU DAN TEMPAT
Data-data tersebut diambil dari berbagai sumber mulai dari data internasional sampai data lokal, dimana lokasi dan waktu kejadiannya yaitu :
1. Wilayah Asia Pasifik tahun 2000
2. Wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara tahun 2003
3. Wilayah Asia Timur dan Pasifik tahun 2003
4. Indonesia tahun 2001
5. Jakarta tahun 2006
6. Papua tahun 2002-2004, 2006
7. Jawa Timur tahun 2006
8. Sulawesi Selatan tahun 2005-2006

VI. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN
Pada prinsipnya, pencegahan dapat dilakukan dengan cara mencegah penularan virus AIDS. Karena penularan AIDS terbanyak adalah melalui hubungan seksual maka penularan AIDS bisa dicegah dengan tidak berganti-ganti pasangan seksual. Pencegahan lain adalah melalui pencegahan kontak darah, misalnya pencegahan penggunaan jarum suntik yang tercemar, dan pengidap virus tidak boleh menjadi donor darah.
Secara ringkas, pencegahan dapat dilakukan dengan formula A-B-C. A adalah abstinensia, artinya tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. B adalah be faithful, artinya jika sudah menikah hanya berhubungan seks dengan pasangannya saja. C adalah condom, artinya jika memang cara A dan B tidak bisa dipatuhi maka harus digunakan alat pencegahan dengan menggunakan kondom.
Upaya penanggulangan AIDS di Indonesia masih banyak ditujukan kepada kelompok-kelompok seperti pekerja seks dan waria, meskipun juga sudah digalakkan upaya yang ditujukan pada masyarakat umum, seperti kaum ibu, mahasiswa dan remaja sekolah lanjutan. Yang masih belum digarap secara memadai adalah kelompok pekerja di perusahaan yang merupakan kelompok usia produktif.
Strategi nasional penanggulangan HIV/AIDS (Stranas) pertama dirumuskan dan digunakan sejak tahun 1994. Berbagai perkembangan dan perubahan yang terjadi akhir-akhir ini telah mendorong semua pihak untuk menyusun strategi nasional yang sesuai dengan kondisi saat ini.
Dalam Stranas 2003 – 2007, terdapat tujuh area penanggulangan AIDS yang berhasil di identifikasikan, yaitu:
a. Pencegahan HIV/AIDS
b. Perawatan Pengobatan dan Dukungan terhadap ODHA
c. Surveilans HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual
d. Penelitian
e. Lingkungan yang kondusif
f. Koordinasi Multi Pihak
g. Kesinambungan Penanggulangan
Dalam Stranas 2003–2007 terdapat dasar-dasar penanggulangan HIV/AIDS sebagai panduan pokok bagi semua pihak yang melaksanakan kegiatan penanggulangan HIV/AIDS. Dasar-dasar tersebut meliputi:
1. Perhatian terhadap nilai-nilai agama dan budaya/norma masyarakat Indonesia dan upaya mempertahankan serta memperkokoh ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
2. Memperhatikan kelompok masyarakat rentan termasuk kelompok marginal.
3. Menghormati HAM dan memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender.
4. Mengutamakan pencegahan melalui KIE dengan penggunaan cara yang efektif.
5. Diselenggarakan secara multipihak berdasarkan prinsip kemitraan dengan peranan pemerintah sebagai pengarah dan pembimbing.
6. Masalah HIV/AIDS merupakan masalah sosial kemasyarakatan.
7. Upaya penanggulangan harus berdasarkan data dan fakta ilmiah.
8. Peran dan tanggungjawab berbagai pihak terkait dikemukakan dengan jelas yang antara lain mencerminkan peran yang besar dari penyelenggara daerah termasuk DPR dan DPRD, lembaga non pemerintah termasuk LSM dan pihak swasta/dunia usaha, lembaga internasional dan orang yang hidup dengan HIV itu sendiri (ODHA).
Stranas 2003 – 2007 juga menjelaskan bagaimana pelaksanaan strategi nasional, melakukan monitoring dan evaluasi serta pendanaan.
Selain itu, penderita HIV/AIDS dapat diobati dengan cara melakukan terapi komplementer dan juga menggunakan antiretroviral (ARV) dan obat antiinfeksi. Terapi komplementer adalah penyembuhan di luar ilmu kedokteran dan keperawatan modern, yang didapat secara turun-temurun, pelatihan, dan pendidikan. Pengobatan alternatif tersebut juga disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat.
Penderita penyakit HIV/AIDS sebaiknya tetap menggunakan antiretroviral (ARV) dan obat antiinfeksi meski tengah melakukan terapi komplementer. Penyandang virus HIV diharapkan terus meningkatkan CD4-nya (sel daya tahan tubuh) melalui terapi komplementer. Pengobatan alternatif komplementer itu antara lain akupresur (akupuntur tanpa tusuk jarum), meditasi, serta olah napas.

VII. PENUTUP
A. Kesimpulan
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang daya tahan tubuh manusia sehingga sistem kekebalan tubuh manusia dapat menurun tajam bahkan hingga tidak berfungsi sama sekali. Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala-gejala penyakit yang timbul karena menurunnya atau hilangnya sistem kekebalan tubuh.
HIV/AIDS dapat tertular melalui :
1. Hubungan seksual yang tidak aman.
2. Pemakaian bersama jarum suntik dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
3. HIV juga dapat ditularkan melalui transfusi darah atau transfusi organ lain dari seseorang yang terinfeksi HIV.
4. Dari ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada bayinya, sebelum atau setelah lahir.
Pencegahan HIV/AIDS dapat dilakukan dengan formula A-B-C. A adalah abstinensia, artinya tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. B adalah be faithful, artinya jika sudah menikah hanya berhubungan seks dengan pasangannya saja. C adalah condom, artinya jika memang cara A dan B tidak bisa dipatuhi maka harus digunakan alat pencegahan dengan menggunakan kondom.
B. Saran
Upaya pencegahan tetap lebih baik dan cost-effective dibandingkan dengan upaya pengobatan. Untuk itu perlu dimasyarakatkan upaya pencegahan AIDS bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk untuk kelompok remaja-mahasiswa.

DAFTAR PUSTAKA

Irawati, D., Tanpa Tahun. Lewat Kafe Mencegah Penularan : http://www.aidsindonesia.or.id/index.php

Mangku. 2007. HIV/AIDS Tetap Gunakan ARV Meski Mengikuti Terapi Komplementer :

Nursalam dan Kurniawati, N. D., 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta : Salemba Medika.

http://www.aidsindonesia.or.id/index.php. Upaya Penanggulangan AIDS Nasional.

http://www.indonesia.go.id/index.php. Fakta tentang HIV/AIDS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: