Al Wajiz fii Manhaj as Salaf oleh : Ust. Syaiful Yusuf, Lc

Muqaddimah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah kurunku kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim)
Dalam hadits di atas, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tiga kurun yang pertama dari kaum muslimin, yaitu :
1. Kurun Nabi dan para sahabatnya
2. Kurunnya para tabi’in (yang datang setelah sahabat)
3. Kurunnya para tabi’ut tabi’in
Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kurun di sini adalah rentan masa 100 tahun, jadi 1 Qarn, 100 tahun, 1 abad, dan Qarn dalam bahasa arab juga berarti abad.
Hadits ini menunjukkan bahwasanya, 3 kurun pertama dalam Islam itu adalah kurun yang terbaik. Jadi kalau kita berbicara tentang zaman keemasan Islam, maka dia berada pada tiga kurun ini. Dan yang paling utama adalah kurun yang di dalamnya terdapat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi inilah zaman keemasan Islam. Kadang-kadang kita mengatakan bahwa zaman keemasan Islam adalah pada masa pemerintahan Harun ar Rasyid atau pada zaman Umar bin Abdul Aziz, ini yang biasa dikatakan orang, tapi sebenarnya sebaik-baik manusia adalah kurunku kata Rasulullah, inilah zaman keemasan Islam. Dan zaman keemasan Islam itu tidak dilihat dari aspek duniawiahnya, dari banyaknya bangunan megah, dari makmurnya ekonomi masyarakat, tetapi dilihat dari sejauh mana Islam itu diterapkan secara sempurna. Dan yang paling sempurna penerapannya adalah pada zaman Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam. Maka hadits ini menunjukkan keutamaa para salaf.

A. Definisi
a. Manhaj, artinya jalan yang jelas, yang terang, dan tidak kabur
b. Salaf
– Menurut bahasa artinya yang terdahulu
Sebelum kita, yang mendahului kita, jadi kalau secara bahasa kakek kita juga salaf salaf, bapak kita juga salaf, karena dia sebelum kita.
– Menurut istilah, kata salaf diberikan kepada para imam, para ulama yang terdahulu dari orang-orang yang hidup pada tiga kurun yang pertama, yaitu
1. Para sahabat, artinya para sahabat-sahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam
2. Para tabi’in, artinya pengikut-pengikut para sahabat (yang mengikuti para sahabat) atau orang-orang yang bertemu dengan para sahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam dan mati dalam keadaan Islam.
3. Tabi’ut tabi’in artinya pengikut para tabi’in dan mati dalam keadaan Islam.

B. Beberapa Nama yang Disandarkan kepada para Salaf, diantaranya adalah :
1. Ahlussunnah wal Jama’ah
Jadi sama saja kalau kita menyebutkan ahlussunnah wal jama’ah dengan para salaf sebab yang disebut ahlussunnah adalah para sahabat, kemudian para tabi’in, kemudian para tabi’ut tabi’in, jadi mereka adalah sumbernya. Manhaj ahlussunnah wal jama’ah dari mereka. Dikatakan ahlussunnah wal jama’ah (ahlussunnah artinya mereka pengikut sunnah) sebab Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Nanti kalian akan melihat perbedaan pendapat yang banyak, maka pada saat seperti itu, wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku, berpegang teguh kepada sunnahku”. Ini kata Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga orang-orang yang mengikuti sunnah dikatakan ahlussunnah berdasarkan hadits ini. Jadi ada sebab dikatakan ahlussunnah, Al jama’ah pun demikian, dalam hadits tentang 73 golongan, kata Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam : “Ummat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya dalam neraka kecuali satu golongan saja”. Dalam satu riwayat dikatakan ketika para sahabat bertanya : “Siapakah satu golongan yang selamat ya Rasulullah?”, Beliau mengatakan : “Al Jama’ah”. Jadi dikatakan ahlussunnah wal jama’ah, itu diambil dari hadits, mengapa para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka benar-benar dikatakan ahlussunnah wal jama’ah karena mereka mengikuti sunnah dan mereka berpegang teguh dengan al jama’ah. Al Jama’ah bisa memiliki dua makna
– Kebenaran, seperti kata Abdullah bin Mas’ud, “Jama’ah itu apa saja yang sesuai dengan kebenaran, meskipun engkau hanya sendiri.
– Seluruh kaum muslimin yang berada di bawah kepemimpinan imam yang syar’I. dalam konteks ini mereka dikatakan ahlussunnah wal jama’ah karena mereka tidak memberontak, tidak menarik ketaatan dari imam yang syar’I, meskipun ia berbeda pendapat dengannya. Ahlussunnah wal jama’ah menjaga keta’atan kepada imam syar’I dalam perkara-perkara yang haq, meskipun mereka tetap ingkaarul mungkar, memberikan nasehat, mengingkari yang mungkar tapi tidak memberontak, tidak menarik ketaatan, tidak menarik diri dari seorang imam yang syar’i. Mereka dikatakan ahlussunnah wal jama’ah, yang mengikuti sunnah, yang berpegang teguh dengan kebenaran, dan senantiasa menjaga keutuhan jama’ah kaum muslimin, tidak suka berpecah. Makanya para ulama kita mengatakan, di antara tiga ahlul bid’ah itu, antara lain suka berpecah. Contoh : bom atom dan sel kanker.
2. Al Firqah an Najiyah (Golongan yang Selamat)
Al Firqah artinya kelompok atau golongan, An Najiyah artinya yang selamat. Jadi Al Firqah an Najiyah artinya kelompok yang selamat. Ini juga dipahami dari hadits Nabi tentang 73 golongan yang selamat. Dari 73 golongan, 72 masuk neraka artinya tidak selamat, 1 golongan masuk surga artinya dia golongan yang selamat dari api neraka sehingga dinamakan Al Firqah an Najiyah.
3. Ath Thaifah al Manshurah (Golongan yang Mendapatkan Pertolongan)
Disebutkan dalam satu hadits, “Senantiasa ada dari ummatku ini sekelompok orang yang menegakkan kebenaran dan mendapatkan pertolongan”. Jadi yang pertama itu adalah para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, mereka adalah orang-orang yang senantiasa menegakkan kebenaran dan tidak takut dengan celaan orang yang suka mencela.
4. Ahlu al Hadits (ahli Hadits)
Ini sama tadi dengan ahlussunnah, tapi lebih khusus lagi para ulama hadits secara khusus. Imam Ahmad mengatakan : Ahli Hadits adalah orang-orang yang mengikuti hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
5. Ahlu al atsari (Pengikut Atsar)
Atsar artinya jejak. Ahlu atsar adalah orang yang mengikuti jejak para pendahulu. Para sahabat mengikuti jejak Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam, para tabi’in mengikuti jejak para sahabat, tabi’ut tai’in mengikuti jejak para tabi’in dst. Mereka disebut ahlul atsar, orang yang mengikuti jejek orang-orang sebelumnya.

C. Mengapa Kita Harus Mengikuti para Salaf ?
Ini untuk menjawab syubhat dari orang-orang yang mengatakan “cukup bagi kita Al Qur’an dan As Sunnah”. Sebab ini adalah satu perkataan yang bisa membawa kepada pemahaman yang keliru.
1. Karena mereka adalah manusia yang terbaik seperti disebutkan dalam hadits tadi : “Sebaik-baik manusia adalah kurunku kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang setelah mereka.”
Kalau ada yang terbaik, kenapa harus mengikuti yang tidak lebih baik. Mereka adalah manusia yang terbaik, maka mereka yang harus diikuti dan keterbaikan mereka dinyatakan oleh Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau adalah nabi yang benar dan dibenarkan, nabi yang tidak pernah berdusta, perkataannya selalu benar. Hadits di atas merupakan suatu pengesahan dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bahwa merekalah memang orang-orang yang terbaik. Nah karena merekalah orang-orang yang terbaik, maka merekalah yang harus diikuti.
Disini bisa kita angkat atsar dari Imam Malik : “Tidak akan menjadi baik ummat yang di belakang ini kecuali dengan apa yang menjadikan baik ummat sebelumnya.” Jadi kita tidak akan menjadi baik kecuali dengan sebab yang menjadikan ummat sebelum kita baik. yang baik adalah para salaf. Mereka manusia yang terbaik, mereka adalah ummat yang terbaik, kalau kita juga mau baik, ikuti yang terbaik supaya kita jadi baik juga. Kalau kita sekarang ingin menjadi ummat yang terbaik juga maka harus mengikuti ummat yang pernah menjadi ummat yang terbaik. Maka apa yang menjadikan mereka baik, kita pelajari. Mengapa mereka jadi manusia terbaik. Bagaimana aqidahnya, bagaimana ibadahnya, bagaimana akhlaknya, bagaimana muamalahnya, bagaimanah dakwahnya, bagaimana jihadnya. Pelajari semua, bagimana sisi-sisi kehidupan dan keislaman mereka, bagaimana mereka memahami Islam, bagaimana mereka menerapkan Islam, sebab itulah yang menyebabkan mereka menjadi ummat yang terbaik. Kalau kita mau menjadi baik, maka kita harus mengikuti sebab-sebab yang menjadikan mereka baik.
2. Karena mereka adalah golongan yang selamat
Dalam salah satu riwayat hadits Rasulullah ketika sahabat bertanya “Siapa mereka ya Rasulullah?”, beliau menjawab, “Mereka (golongan yang selamat) adalah satu golongan yang berada pada apa yang aku berada di atasnya pada hari ini, dan apa yang berada di atasnya para sahabatku.” Mereka adalah yang mengikuti jalanku dn jalan para sahabatku, yang mengikuti manhajku dan manhaj para sahabatku, yang mengkuti keislamanku dan keislaman para sahabatku, itulah golongan yang selamat. Mengikut kepada Nabi dan para sahabat beliau. Kalau begitu, kita harus mengikuti mereka karena kita mau selamat. Kalau mau selamat bagaimana caranya, ikuti jalannya orang yang selamat. Jangan mengikuti orang yang belum jelas. Sekarang banyak pendapat, banyak pemikiran, banyak ideologi, tetapi siapa yang jamin bahwa mereka selamat. Ada keinginan selamat, tidak ada jaminan selamat, malah jaminan kecelakaan mungkin banyak. Pasti celakanya banyk. Paham sekularisme, sosialisme. Komunisme, liberalisme, itu sudah jelas sesatnya.
3. Karena mereka hidup di zaman turunnya syari’at sehingga merekalah yang paling mengerti makna dan maksudnya.
Mereka yang paling tahu tentang syari’at, paling tahu tentang ayat-ayat Allah, tentang hadits-hadits Nabi dan apa maksudnya. Sehingga merekalah yang harus diikuti, para salaf yanag penghulunya adalah para sahabat, inilah yang harus diikuti, karena mereka hidup di zaman turunnya wahyu, mereka langsung mendengarkan penjelasan Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga merekalah yang paling tahu tentang Qur’an dan Sunnag dan paling tahu maksudnya. Dengan demikian, penerapan mereka tentang Qur’an dan Sunnah adalah penerapan yang paling benar. Karena itu, mereka yang harus diikuti.
Di poin ini kita bisa kembali meluruskan syubhat yang tadi, syubhat orang-orang yang mengatakan cukuplah Al Qur’an dan Sunnah. Para sahabat, para tabi’in mereka juga laki-laki sama seperti kita. Mereka membaca Al Qur’an, kita juga membaca Al Qur’an. Mereka punya akal, kita juga punya akal, mereka paham bahasa Arab kita juga paham bahasa Arab. Padahal para sahabat memiliki kelebihan, sebab mereka hidup bersama Rasulullah. Ketika ada yang kesalahpahaman mereka tentang syari’at, akan langsung diluruskan oleh Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam. Satu contoh, sahabat yang membaca A yat yang artinya : “Makan dan minumlah hingga jelas bagimu perbedaan antara benang yang putih dengan benang yang hitam di waktu fajar’. Ayat ini dia terapkan apa adanya, dia mengambil benang hitam dengan benang putih dan ia makan sahur sampai dia bisa membedakan antara keduanya. Ketika terbit fajar ternyata masih gelap, masih belum kelihatan perbedaan benang putih dengan benang hitam, maka dia bertanya kepada Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi mengatakan, bukan itu yang dimaksud, yang dimaksud dengan benang putih adalah terangnya siang dan benang hitam adalah gelapnya malam, jadi makan dan minumlah sampai jelas perpindahan dari malam ke siang yaitu di waktu terbitnya fajar. Ketika ada pemahaman yang keliru di kalangan para sahabat, langsung diluruskan oleh Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga sahabat tidak ada yang keliru paham, karena mereka hidup di zaman turunnya syari’at dan langsung mendengarkan penjelasan dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam.
Contoh lain : Dalam Ayat “Orang-orang yang beriman dantidak mencampurkan keimanannya dengan kedzaliman, merekalah orang-orang yang mendapatkan keamanan dari Allah, dan merekalah orang yang mendapatkan petunjuk”. Para sahabat bersedih, siapakah di antara kita yang tidak pernah mendzalimi, minimal mendzalimi diri sendiri. Sampai Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa bukan itu yang dimaksud. Kedzaliman yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kesyirikan. Jadi orang yang beriman yanag tidak mencampurkan keimanannya dengan kesyirikan. Jadi Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam langsung memberikan penjelasan kepada mereka. Inilah keistimewaan para sahabat.
Pemahaman mereka tentang Al Qur’an dan as Sunnah adalah pemahaman yang paling benar sebab mereka langsung mendapatkan penjelasan dari sumbernya. Karena itu, merekalah yang harus diikuti. Untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah maka harus mengikut kepada bagaimana para sahabat memahaminya, yang kemudian pemahaman itu diwariskan kepada para tabi’in, diwariskan kepada para tabi’ut tabi’in, diwariskan lagi kepada ulama-ulama yang hidup setelah mereka. Itulah pemahaman yang benar. Sehingga memahami Al Qur’an dan As Sunnah harus ada standarnya. Jika setiap orang memahami Al Qur’an dan Sunnah tanpa ada sandarnya, maka akan begitu banyak penafsiran yang berbeda.
Ahmadiyah misalnya, yang mengatakan bahwa masih ada Nabi setelah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam, salah satu dalil dari Mirza Ghulam Ahmad yang menyatakan dirinya sebagai nabi adalah karena dikatakan bahwa Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam “Khatamu an Nabiyyin”. Menurut pemahamannya, Khatam itu artinya cincin, cincin yang memperindah. Jadi Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam adalah cincinnya para Nabi, Nabi yang paling mulia, tapi tidak berarti bahwa tidak ada lagi nabi setelahnya. Para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in juga membaca seperti itu, tapi apakah mereka memahami sama seperti pemahaman MG Ahmad? Tentu saja tidak.
Ada juga perempuan yang mengaku sebagai seorang nabi, namanya Syujah… karena dalam hadits hanya dikatakan laa nabiyya ba’dii (Tidak ada nabi setelahku), nabi dalam bahasa Arab berarti nabi laki-laki, dan Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan laa nabiyyatun (nabi perempuan), jadi bisa saja ada nabi perempuan. Kalau diakal-akali bisa juga, tapi pemahaman sahabat tidak begitu. Sebuah dalil bisa saja dipreteli, bisa dibawa penjelasan dalil kepada apa yang kita inginkan. Makanya pemahaman di sini pentingnya merujuk kepada para sahabat, sebab kalau tidak, maka setiap orang bisa saja membawa dalil kepada pemahaman yang dimana dia bisa membodoh-bodohi orang awam.
4. Mereka adalah pemilik bahasa yang dengannya wahyu turun, yakni bahasa Arab.
Para sahabat adalah orang-orang Arab yang betul-betul paham dengan bahasa Arab. Sebab ini adalah bahasa mereka, sehingga merekalah yang paling paham dengan apa yang Allah turunkan dan hadits-nadits yang Nabi sampaikan kepada mereka.
5. Manhaj (jalan, pemahaman dan penerapan) para salaf adalah Islam yang shahih
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam golongan yang selamat adalah golongan yang mengikuti jalannya nabi dan jalannya para sahabat, itulah Islam yang benar dan Islam yang diajarkan oleh nabi, yang dipahami oleh para sahabat, yang diterapkan oleh para sahabat. Jadi manhaj salaf adalah Islam itu sendiri, sehingga manhaj salaf adalah manhaj yang harus kita ikuti. Kalau kita mengikuti jalan selain jalannya para salaf, maka berarti kita akan mengikuti jalan yang lain selain jalannya Islam. Kalau ikut manhajnya Khawarij maka itu bukan Islam yang shahih, itu adalah Islam yang menyimpang. Mengikuti Syi’ah itu juga bukan Islam yang shahih, dia adalah Islam yang telah diselewengkan, menyimpang dari yang sebenarnya. Manhajnya Mu’tazilah, Murji’ah juga demikian. Semuanya menyimpang, mungkin dari satu sisi keislamannya benar, tapi pada sisi yang paling penting, yakni pada sisi aqidah, keislamannya menyimpang. Kita diperintahkan untuk mengacu kepada Islam yang benar, bukan kepada Islam yang salah. Fiman Allah : “Inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, kalau kalian mengikuti jalan yang lain, maka kalian akan berpecah dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
6. Manhaj salaf sesuai di setiap masa dan tempat
Kapan saja dan dimana saja, manhaj salaf tidak pernah tidak cocok, manhaj salaf senantiasa dapat diterapkan. Dia adalah manhaj yang tidak dipatahkan oleh waktu, yang tidak dibatasi oleh tempat dan wilayah.

D. Kesempurnaan Manhaj Salaf
Manhaj salaf bukanlah manhaj yang sempit, karena manhaj salaf adalah Islam yang benar, maka seluruh aspek Islam adalah manhaj salaf, bagaimana para salaf memahami dan menerapkannya. Cakupan manhaj salaf yaitu :
1. Dalam manhaj talaqqi (menerima dan memahami Islam)
Ini akan dijelaskan nanti dalam materi tarbiyah pada materi Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah.
Dalam memahami Islam, para salaf senantiasa berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah, mendahulukan Al Qur’an dan As Sunnah di atas segalanya, termasuk di atas akal mereka. Berbeda dengan manhaj yang lain. Manhaj yang lain mendahulukan akal daripada Al Qur’an dan As Sunnah. Kalau ada Al Qur’an yang mau dipakai terlebih dahulu ditimbang dengan kaidah-kaidah akal. Seharusnya Pegangan kita yang paling utama adalah kepada Al Qur’an dan As Sunnah, bukan kepada perkataan manusia.
2. Dalam Aqidah
Para salaf adalah orang-orang yang beriman dan bertauhid yang kuat. Iman kepada Allah, kepada malaikat, dst, iman mereka mantap. Tauhid yang kuat, yang teguh tidak tercampur dengan noda-noda kesyirikan. Hari ini, banyak orang-orang yang engaku beriman kepada Allah, tapi dalam kehidupannya masih ada noda-noda kesyirikan yang mereka amalkan atau mereka yakini dalam kehidupannya. Contoh, ada orang yang berdo’a selain kepada, berdo’a kepada nabi, berdo’a kepada para wali (angkat contoh-contoh yang aktual supaya mereka bisa ikut merasakan kenyataan yang ada sekarang). Ada orang yang berdo’a di kuburan para wali, menyembelih untuk selain Allah, menanam kepala kerbau, laut dikhawatirkan ada penjaganya yang suka mengamuk, maka di sorong ke tengah laut sesajian-sesajian. Penekanan : Murabbi harus mengangkat contoh yang aktual
3. Dalam akhlak
Para salaf adalah manusia yang terbaik untuk manusia, QS. Ali Imran : 110. Mereka adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan untuk orang lain. Bukan menginginkan kecelakaan bagi orang lain. Kalau kita berdakwah, mengatakan kebenaran Islam kepada orang lain, karena kita ingin mereka selamat. Begitulah para salaf, mereka menyampaikan agama kepada orang, ingin supaya orang lain mendapatkan hidayah. Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling bermanfaat kepada orang lain. Bukan orang yang mencelakakan orang lain. Dan amal yang Allah paling cintai adalah menyisipkan kegembiraan kepada seorang muslim, membuat seorang muslim senang. Dalam sebuah hadits Rasulullah, mereka (ahlussunnah wal jama’ah) adalah orang yang paling tau kebenaran dan paling penyayang kepada makhluk. Kata Rasulullah : saya berjalan untuk menyelesaikan hajat seorang saudara lebih saya sukai dari pada beri’tikaf di mesjid (mesjid Nabawi), hadits Shahih, dishahihkan oleh sykeh al Albani. Kata Ibnu Qayyim, kami sangat ingin berbuat kebaikan kepada sahabat-sahabat kami, seperti Ibnu Taimiyah berbuat kepada musuh-musuhnya. Suatu ketika musuh bebuyutannya meninggal dunia, musuh yang memasukkanya ke dalam penjara. Ketika dia meninggal, murid-murid Syekh datang, mengatkan kabar gembira ya syekh, musuh Anda telah meninggal. Ibnu Taimiyah marah, kenapa dikatakan kabar gembira atas musibah yang menimpa kaum muslimin. Beliau mendatangi keluarganya dan mengatakan, hidup kalian dalam tanggungan saya setelah meninggalnya bapak kalian. Ini kepada musuhnya, lalau bagaimana Beliau kepada sahabatnya kira-kira. Manusia terbaik untuk manusia.
4. Dalam Ibadah
Syekh Khalid mengatakan di antara manhaj salaf yang paling jarang kita menerapkannya adalah manhaj salaf dalam beribadah. Para salaf adalah ahli ibadah yang senantiasa mengikuti sunnah. Dalam suatu peperangan, pasukan Romawi mengirim mata-matanya masuk di kamp kaum muslimin, beberapa hari dia berada di sana, kemudian menyelinap keluar. Ketika ditanya tentang kondisi kaum muslimin, ma ta-mata ini mengatakan, saya melihat kita tidak akan bisa mengalahkan mereka, sebab mereka di siang hari adalah penunggang-penunggang kuda yang sangat hebat, yang sangat cekatan dan sangat berani, dan mereka seperti rahib-rahib kita di waktu malam. Dalam jihad pun, dalam di hari yang melelahkan, dalam suasana yang tidak menyenangkan, berada di kamp-kamp, tapi ibadah mereka tetap hidup. (di sini bisa dihidupkan semangat qiyamul lail pada para mad’u).
5. Dalam Menuntut Ilmu
1. Menghafalkan ilmu
Di sini tanamkan motivasi untuk mau menghafal. Sedikit-sedikit sesuai dengan kemampuan mutarabbi. Orang Indonesia lemah dalam menghafal. Di antara negara, yang paling sedikit penghafal Al Qur’annya adalah Indonesia.
2. Memahami ilmu
Kalau menghafal lantas tidak dipahami maka itu namanya menghafal huruf, seorang syekh di Madinah, Syekh Abdullah …. Beliau mengataka, sekarang yang banyak bukan penghafal al Qur’an tapi penghafal huruf-huruf Al Qur’an. Sebab dia baca tapi dia tidak paham.
3. Menghormati guru tanpa harus ta’ashshub kepadanya
Menghormati guru tapi tidak ta’ashshub. Ada orang yang menghormati guru tapi ta’ashshubnya bukan main. Ada juga yang tidak ta’ashub tapi tidak hormat. Manhaj salaf, menghormati para guru tapi tidak ta’ashshub kepada pendapat-pendapat mereka. Contoh para ulama, berapa banyak ulama yang menyatakan dirinya sebagai pengikut suatu madzhab, tetapi dalam beberapa pendapatnya berbeda dengan pendapat madzhabnya. Kalau kita belajar fiqh, kita akan mendapatkan banyak contoh yang seperti ini.
6. Dalam dakwah :
Di sini ditanamakna, kalau mau mengikuti para salaf, maka jangan hanya mau belajar, tetapi tidak mau berdakwah, sebab para salaf adalah orang-orang yang selalu berdakwah. Silahkan baca sirahnya para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, bagaimana dakwah mereka.
1) Sangat menginginkan orang lain mendapatkan hidayah
Kalau menginginkan orang mendapat petunjuk, maka harus giat berdakwah.
2) Peduli dengan urusan kaum muslimin
Seseorang pernah datang kepada Abdullan bin Mubarak, dan dia mencela orang lain di depan Abdullah bin Mubarak. Beliau bertanya, “Apakah engkau sudah pernah berjihad di jalan Allah melawan Yahudi dan Nashrani?” Katanya “belum”. Beliau berkata, “Masya Allah, orang Yahudi dan Nasrani selamat dari gangguanmu, tapi saudaramu tidak selamat darimu”. Bukannya peduli dengan kaum muslimin, tetapi malah menghancurkan kaum muslimin. Ada da’I di tengah masyarakat, dijelek-jelekkan lagi. Sehingga orang-orang yang sudah mau datang pengajian, jadi tidak mau lagi.
3) Senantiasa berjuang untuk meninggikan agama Allah dengan cara :
– Mengajak manusia kepada kebaikan, QS. Ali Imran : 114
– Amar ma’ruf nahi munkar,
– Berjihad di jalan Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: