Al Ibadah oleh Ust. Jahada Mangka, Lc

1. Agar peserta tarbiyah memahami hakikat ma’na ibadah.
2. Untuk memberikan gambaran akan keluasan pengertian ibadah.
3. Agar peserta tarbiyah menjadikan seluruh aktifitasnya dalam koridor ibadah.
4. Agar peserta tarbiyah senantiasa menjaga keikhlasan dan menyesuaikan amalannya dengan syari’at.

1. Pengertian ‘ibadah:(2:138)

138. Shibghah Allah[91]. dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan Hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.

[91] Shibghah artinya celupan. Shibghah Allah: celupan Allah yang berarti iman kepada Allah yang tidak disertai dengan kemusyrikan.

Pengertian ibadah ditinjau dari dua segi, yaitu:
a. Bahasa:
– Tunduk atau patuh
– Ta’at
– Merendahkan diri/menghinakan diri
Itulah makna ibadah secara bahasa, maka ketika kita mengatakan

itu berarti maknanya adalah kepada Mu ya Allah aku ta’at, tunduk dan merendahkan diri. Jadi ketika kita mengatakan saya beribadah kepada Allah dan pernyataan itu adalah dalam bentuk pembatasan, karena memang kita di dunia ini harus menyembah hanya kepada Allah dan itulah makna dari syahadat kita. Syahadat Laailaha illallah. Wa ma Khalaktujinn………., maka kita hanya menyembah kepada Allah saja. Iyya kana’budu. Maka dalam susunan bahasa Arab ini namanya taqdimul maqbul ‘alal amil atau taqdimul maqbul fa’il. Kalau dalam susunan bahasa arab adalah terjadi fi’il, fa’il, dan maf ulumbihi (kata kerja, subyek dan obyek). Misalnya ‘kara’tul kitabah (saya baca kitab), dharabul zaidan, tapi ini didahulukan mafulumbihinya mestinya kalau dalam bahasa arab biasa, misalnya kita hanya mengatakan na’buduka wa nasta’inuka tapi kemudian didahulukan objeknya yaitu Allah, maka menjadi iyyakana’budu. Objeknya itu adalah Allah yang kita sembah di dahulukan. Adapun fungsi dari taqdimul maqbul ‘alal fa’il adalah sebagai lil hasyr (untuk membatasi). Jadi ketika kita mengataka iyya kana’budu, kita hanya semata-mata menyembah dan kami tidak menyembah kepada selain Mu. (itu maksudnya ushlub/bentuk bahasa dari iyyakana’budu). Jadi ketaatan itu mutlak hanya kepada Allah.
b. ishthilah (syar’i):
Ada beberapa istilah ibadah yang disebutkan oleh para ulama kita, namun di sini kita hanya menyebutkan salah satunya, yaitu pengertian yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al Ubudiyah:
” Nama segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan dirhidhai-Nya dalam bentuk perbuatan dan amalan baik yang zhahir maupun yang bathin” (Ibnu Taimiyah)
Visi ini menunjukkan keluasan dari makna ibadah. Jadi intinya, semua nama segala sesuatu, selam ia dicintai oleh Allah dan diridhoi Nya, jika amalan itu atau perbuatan itu, atau ungkapan itu diridhoi dan dicintai oleh Allah maka ia masuk dalam kategori ibadah. Jadi di sini kita juga bisa ikhti’raj (menentukan) syarat ibadah.
Kemudian dari defenisi ini disebutkan minal aqwal wal a’mal (baik dalam bentuk ucapan maupun amalan) jadi semua bentuk ucapan dan semua bentuk amalan, perilaku, sikap slama ia dicintai oleh Allah dan diridhoiNya maka ia termasuk dalam kategori ibadah.
Main bola bisa jadi masuk ibadah jika:
1. Niat kita ikhlash
2. Cara kita main bola dicintai dan diridhoi oleh Allah. Kalau cara main bola sudah main sikat atau menciderai saudara berarti ia keluar dari koridor ibadah walaupun niatnya baik.
Contoh lain, jika seseorang menjadi satpam di bank konfensional, maka hal itu adalah Sesuatu yang tidak termasuk ibadah karena tidak diridhoi oleh Allah walaupun niatnya untuk mencari nafkah.
. 2. Hakikat Ibadah:
a. Kebutuhan kita kepada Allah.
Dalil :35:15.
Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Seandainya seluruh makhluk, jin dan manusia dari awal hingga akhir semuanya bertaqwa kepada Allah, maka itu tidaklah menambah kerajaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebaliknya seandainya seluruh makhluk, jin dan manusia dari awal hingga manusia yang terakhir semuanya ingkar kepada Allah, mak itu semua tidak mengurangi kerajaan Allah sedikit pun”
Allah tetap Allah, tidak bertambah dan tidak berkurang kerajaan Allah karena kita beribadah kepada Allah. Karena kita beribadah kepada Allah sebab kita butuh kepada Allah, makanya jangan sampai kita merasa telah banyak beribadah kepada Allah sehingga kita telah merasa banyak berbuat baik kepada Allah.

b. Ibadah adalah hak Allah terhadap hambaNya.
Dalil : 2:21-22
Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi
Dari Muadz bin Jabal Radiyallahu ‘anhu ketika beliau dibonceng oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah bertanya: Tahukah kamu, apakah hak Allah terhadap hamba-Nya?”, Muadz berkata” Allahu wa Rasulahu a’lam”. Rasulullah kemudian menjawab, “adapun hak Allah terhadap hamba-Nya adalah agar ia menyembah Allah dan tidak mensyerikatkan-Nya”
Oleh karenaitu, kita beribadah kepada Allah karena itu merupakan hak Allah atas diri seorang hamba sekaligus merupakan kewajiban seorang hamba untuk beribadah kepada Allah.

c. Ibadah kepada Allah adalah bentuk kemerdekaan,
Jika kita ingin merdeka yang hakiki, kita hanya memberikan peribadatan kepada Allah, itulah kemerdekaan yang hakiki dan sesungguhnya dimana kemerdekaan yang sesungguhnya ini disebabkan karena
– Hati yang tidak terpaut kepada selain Allah 13:28
Oleh karena itu, orang yang betul-betul mewujudkan pengabdiannya hanya kepada Allah saja, dia serahkan dirinya kepada Allah maka itulah orang yang paling merdeka dan paling tenang hidupnya, sedangkan orang yang masih beribadah kepada selain Allah itu tidak pernah merasa tenang dan tenteram hidupnya, selalu dihantui oleh kehidupan (takut miskin, takut tidak naik pangkat, takut tidak jaid pejabat, takut lengser dari jabatannya, takut mati, takut ditinggal istrinya, dll). Ini terjadi karena hatinya masih terpaut pada yang lain. Jadi seandaninya hati kita hanya terpaut kepada Allah, maka tidak akan ada kekhawatiran-kekhawatiran dalam hidup kita sehingga kita akan menjadi tenang dan tenteram.
– Bebas dari kehinaan selain Allah
Kebebasan dari kehinaan dan kenistaan selain Allah sehingga kita tidak menghinakan, makanya kita tidak merendahkan diri kita sekalipun kita bersama dengan penguasa alam, orang yang betul-betul ketergsntungannya hanya kepada Allah dengan ubudiyahnya hanya kepada Allah tidak akan pernah merasa kecil ataupun merasa kerdil walaupun ia duduk bersama penguasa alam.

– Bebas dari ketundukan selain Allah. 40:66
karena ia merupakan jalan untuk membebaskan diri dari ketundukan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
d. Ibadah adalah santapan rohani. 13:28-29
Kita tahu bahwasanya manusia ini terdiri dari dua unsur secara umum, yaitu unsur fisik dan unsur rohani, dan salah satu kebutuhan rohani kita ini adalah ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena orang yang tidak beribadah kepada Allah maka rohaninya akan kering dan , dia adalah manisnymerintih. Sebab ibadah Allah merupakan halalah, halalatul iman, dia adalah manisnya iman sehingga semakin dekat seseorang kepada Allah maka semakin terpenuhi kebutuhan rohaninya.
e. Ibadah adalah ujian dari Allah. 67:1-2, 3:142.
Ibadah merupakan ujian bagi kita, apakah kita mau melaksanakan ibadah itu atau kita tidak mau melaksanakan ibadah itu.ini merupakan ujian dari Allah.

3. Syarat diterimanya ibadah: 18:110

110. Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

a. Ikhlas,
Makna ikhlas ada dua, yaitu:
– Tidak syirik/tidak jatuh dalam kesyirikan (bersih daripada kesyirikan)
Dalil : 10:105, 39:65.

105. Dan (aku Telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik.

39:65

65. Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.

Orang yang syirik tidak akan diterima ibadahnya, sebesar apapun jasanya kalau ia syirik maka tidak akan diterima amalnya.
Contoh: Thomas Alfa Edison, Penemu listrik, sia-sia amalannya padahal listrik yang digunakan untuk dakwah tapi jasanya itu tidak diterima karena ia syirik kepada Allah. Jadi ini adalaha salah satu makna ikhlash.
– Semata-mata mencari ridha Allah. 2:264

264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya Karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (Tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir[168].

[168] mereka Ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.

Artinya kita melakukan amalan, mengucapkan ucapan yang tujuannya adalah untuk mencari ridha Allah.
Contoh: orang yang belajar apalagi ilmu syar’I untuk menjadi PNS di depag, kira-kira itu masuk ibadah atau bukan? Sesuai dengan makna ini, ia tidak termasuk ibadah. Makanya dikatakan dalam hadits Rasulullah yang artinya:
“Siapa yang menuntut ilmu (yang mestinya menuntut ilmu karena mencari ridho Allah) tapi ia menuntut karena sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak menemukan bau surga”

Makanya ikhlas itu memperbaiki motivasi. Dan ini bukan persoalan seperti membalikkan telapak tangan.
Hasan Al Basri mengatakan “saya melatih diri saya menjadi orang yang ikhlas itu 20 tahun lamanya”. Sehingga ada yang mengatakan “Barang siapa yang telah melihat dirinya ikhlas maka keikhlasan itu masih butuh keikhlasan. Siapa yang merasa dirinya sudah ikhlas berarti ia belum ikhlas Karena ia merupakan amalul qalbi (perbuatan hati). Olehnya itu, kita perlu memuhasabah diri kita setiap saat.
Dan keikhlasan ini dalam dua makna tadi adalah wujud dan aplikasi syahadat Laa Ilaha illallah. Tahqiqu syahadat Laa Ilaha illallah.

b. Mutaba’ah (mencontoh Rasululllah) 7:59, 18:103-106 . (2).

59. Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), Aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).

Yaitu mencontoh Rasulullah atau mengikuti syariat. Amalan, ucapan, dan perilaku kita harus sesuai dengan syariat, kapan keluar dari syariat walaupun niatnya atau motivasinya ikhlas maka ia tidak termasuk dalam kategori ibadah. Seperti seseorang yang mencari nafkah untuk membiai keluarganya, tetapi ia mencari nafkah dengan menjadi satpam d bank konfensional atau satpam di nightclub itu jelas melanggar syariat walaupun niatnya baik. Maka ia tidak termasuk dalam kategori ibadah. Dan ini adalah bentuk pengejawantahan Syahadat Muhammadan Rasulullah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: