PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN PROBLEM POSING PADA SISWA KELAS X6 MAN PINRANG Oleh ST. ZUHAERAH THALHAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan sarana satu-satunya dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga sarana dan prasarana pendukung harus mendapatkan perhatian serius. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua dan masyarakat. Agar pendidikan dapat sukses, maka ketiga komponen penanggung jawab tersebut perlu mengadakan sinergi gagasan dan potensi sehingga dapat menghasilkan kekuatan yang besar. Sinergi seperti ini sangat penting mengingat problem dan tantangan yang dihadapi pendidikan semakin besar dan kompleks. Sementara sumber-sumber yang dapat digunakan untuk menghadapinya sangat terbatas.
Melihat pentingnya pendidikan untuk masa depan bangsa, maka sekolah harus berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan khususnya mutu pendidikan matematika yang merupakan landasan dan kerangka pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Depertemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) memberi penekanan yang serius terhadap pendidikan matematika di berbagai tingkat pendidikan, sejak Sekolah Dasar (SD) sampai Universitas. Walaupun peradaban manusia berubah dengan pesat, namun bidang matematika terus relevan dan menunjang pada perubahan. Matematika merupakan subjek yang sangat penting di dalam sistem pendidikan di seluruh negara di dunia ini. Negara yang mengabaikan pendidikan matematika sebagai prioritas utama akan tertinggal dari segala bidang, dibanding dengan negara-negara lainnya yang memberikan tempat bagi matematika sebagai subjek yang sangat penting.
Tujuan pembelajaran matematika adalah terbentuknya kemampuan bernalar pada diri siswa yang tercermin melalui kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis dan memiliki sifat objektif, jujur, disiplin dalam memecahkan suatu permasalahan baik dalam bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Guru dalam melaksanakan tugasnya harus mampu mengembangkan berbagai metode dan strategi pembelajaran matematika serta dapat mengkombinasikan beberapa metode mengajar. Karena pada hakikatnya mengajar adalah membantu siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai, cara berpikir, saran untuk mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar. Sehingga hasil akhir dari suatu proses pembelajaran adalah tumbuhnya kemampuan siswa yang tinggi untuk dapat belajar lebih mudah dan lebih efektif di masa yang akan datang. Jadi proses pembelajaran tidak hanya memiliki makna deskriptif dan kekinian, tetapi bermakna prospektif dan berorientasi ke masa depan.
Unsur yang paling penting dalam mengajar adalah merangsang serta mengarahkan siswa untuk belajar dalam berbagai macam cara yang mengarahkan pada tujuan. Akan tetapi, apapun subjeknya mengajar pada hakekatnya bukan hanya sekedar menolong siswa untuk memperoleh pengetahuan tingkah lakunya. Cara mengajar guru merupakan kunci bagi siswa untuk belajar dengan baik.
Untuk mencapai proses mengajar yang efektif dan efesien, tidak hanya di capai dengan metode yang bersifat “teacher center” atau pengajaran satu arah yang berpusat pada guru. Pembelajaran yang dilakukan seperti ini mengakibatkan siswa menjadi malas dan kurang bergairah dalam menerima pelajaran. Salah satu penyebab kurang berpartisipasinya siswa dalam pembelajaran matematika di kelas adalah pendekatan yang kurang tepat yang digunakan oleh guru dalam mengajar.
Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk mancari suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika yang dapat melibatkan siswa aktif, berkualitas dan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.
Melalui model pembelajaran pendekatan problem posing inilah diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa. Demikian halnya pada siswa MAN Pinrang, menurut informasi berdasarkan hasil diskusi dengan guru bidang studi matematika bahwa komunikasi matematika siswa kelas X6 masih kurang optimal, hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata ujian siswa 50,61. Ini disebabkan karena beberapa aspek antara lain: (1) menyajian pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar dan grafik, (2) mengajukan dugaan matematika, (3) melakukan manipulasi matematika, dan (4) menarikan kesimpulan dari pernyataan matematika. Disamping itu keaktifan dan pengembangan kemampuan berpikir siswa dalam memecahkan masalah dari situasi matematika yang diberikan masih kurang. Dengan melihat fakta yang ada, maka salah satu alternatif dalam pemecahan masalah yang dapat diberikan adalah dengan menerapkan salah satu pembelajaran melalui pendekatan problem posing.
Pendekatan problem posing menurut beberapa ahli pendidikan matematika adalah salah satu pendekatan yang mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran matematika Brown dan Walter, 1990; Silver et al, 1996; Gonzales, 1994; Silver dan Cai, 1996 (dalam Upu, 2003).
Pendekatan problem posing sebagai upaya peningkatan komunikasi matematika, karena di dalam pendekatan pengajuan masalah kemampuan bahasa matematika adalah aspek yang sangat penting dari komunikasi (Upu, 2003).
Penyempurnaan, pengembangan dan inovasi pembelajaran matematika akan terus dilaksanakan Depdikanas untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, yang pada akhirnya dimaksudkan untuk meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Kebutuhan SDM Indonesia yang mampu bersaing menghadapi tantangan persaingan global yang semakin keras dan tajam. SDM yang diidam-idamkan yang dapat dihasilkan pendidikan di Indonesia adalah SDM yang memiliki keterampilan tinggi. Untuk mencapai hal tersebut, komunikasi matematika sebagai salah satu kompetensi dasar, karena kemampuan mengkomunikasikan ide, pikiran dan pendapat sangat dibutuhkan, sejalan dengan semakin kuatnnya tuntutan keterbukaan dan akuntabilitas dari setiap lembaga.
Sejak tahun 2000, NCTM (National Countil of Teacher of Mathematics) mendeklarasikan bahwa program pembelajaran di kelas-kelas TK sampai SMU harus memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengkomunikasikan pemikiran matematika mereka secara logis dan jelas kepada teman sejawatnya, gurunya, dan orang lain.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematika Melalui Pendekatan Problem Posing Pada Siswa Kelas X-6 MAN Pinrang”.

B. Permasalahan
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian adalah rendahnya kemampuan komunikasi matematika yang tercermin pada rendahnya kemampuan siswa dalam menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar dan grafik, mengajukan dugaan matematika, melakukan manipulasi matematika, dan menarikan kesimpulan dari pernyataan matematika untuk memperjelas keadaan dalam penyelesaian masalah matematika tersebut. Baik penyelesaian masalah berupa tugas-tugas yang diberikan oleh Guru di dalam proses belajar mengajar di kelas maupun tugas-tugas yang diberikan untuk dikerjakan di rumah.
2. Pemecahan Masalah
Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu diadakan perubahan dalam proses belajar-mengajar yakni perubahan model pembelajaran melalui pendekatan problem posing.

3. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah: Apakah kemampuan komunikasi matematika siswa kelas Kelas X6 MAN Pinrang dapat ditingkatkan melalui pendekatan problem posing?

C. Tujuan Penelitian
Pada dasarnya tujuan penelitian ini adalah untuk mengupayakan terjadinya peningkatan komunikasi matematika siswa kelas X6 MAN Pinrang dapat ditingkatkan melalui pendekatan problem posing.

D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian adalah kelas X6 MAN Pinrang. Pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan problem posing.

E. Hasil yang Diharapkan
Hasil yang diharapkan dari penelitian ini memberikan manfaat berarti bagi:
1. Guru: melalui penelitian ini, guru dapat lebih mengembangkan profesionalnya dalam mengajar sebagai upaya mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada siswa melalui peningkatan inovasi dan variasi dalam sistem mangajar sehingga berpengaruh pada peningkatan kemampuan komunikasi matematika siswa.
2. Siswa: dapat meningkatkan komunikasi matematika siswa dalam menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar dan grafik, mengajukan dugaan, melakukan manipulasi matematika, dan menarikan kesimpulan dari pernyataan, serta menuliskan berbagai masalah yang diajukan dalam bentuk matematis.
3. Sekolah: hasil dari penelitian merupakan informasi untuk dijadikan bahan masukan untuk mendapatkan strategi pembelajaran yang efektif.
4. Penulis: memberi gambaran kepada penulis sebagai calon guru tentang keadaan sistem pembelajaran di sekolah, sehingga dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan ide-ide dalam rangka perbaikan proses pembelajaran.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: