“Contoh Laporan PKL”

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pencemaran air diakibatkan oleh masuknya bahan pencemar (polutan) yang dapat berupa gas, bahan-bahan terlarut, dan partikulat. Pencemaran memasuki badan air dengan berbagai cara, misalnya melalui atmosfer, tanah, limpasan (run off) pertanian, limbah domestik dan perkotaan, pembuangan limbah industri, dan lain-lain (Effendi, 2003). Selanjutnya Peraturan Pemerintah RI No.20 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air dalam Effendie (2003), mendefinisikan pencemaran air, yaitu masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan tidak lagi berfungsi sesuai dengan peruntukannya.
Sungai merupakan salah satu lingkungan perairan yang merupakan sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan domestik maupun untuk kepentingan industri, sehingga perlu dijaga kelestarian fungsi dan kualitasnya untuk pemanfaatan yang berkesinambungan. Pencemaran terhadap sungai akan membahayakan biota air dan mahluk hidup lainnya terutama masyarakat sekitar aliran sungai yang memanfaatkan sumber daya sungai tersebut. Sungai Tello merupakan sungai yang potensial terkena pencemaran limbah logam berat dikarenakan terdapatnya beberapa industri yang menghasilkan limbah yang mengandung komponen logam berat.
Logam berat tersebut banyak digunakan dalam berbagai keperluan terutama untuk sektor industri yang kegiatan produksinya bersifat terus menerus. Apabila logam-logam berat tersebut mencemari air dan udara yang selanjutnya terkonsumsi oleh organisme seperti ikan dan tubuh manusia, maka akan mengumpul dalam waktu yang lama yang bersifat sebagai racun yang akumulatif, artinya tidak bisa diurai oleh organ tubuh.
Logam berat adalah semua jenis logam yang mempunyai berat jenis lebih dari 5 gram/cm3, sedang yang mempunyai berat jenis kurang dari 5 gram /cm3 dikenal dengan nama logam ringan (Saeni, 1989). Faktor yang menyebabkan logam berat dikelompokkan kedalam pencemar adalah karena logam yang menyebabkan logam berat dikelompokkan kedalam pencemar adalah karena logam berat tidak dapat terurai melalui proses biodegradasi seperti pencemaran organik serta dapat terakumulasi dalam lingkungan (Hamidah 1980). Logam berat mampu berikatan dengan senyawa organik dan anorganik melalui proses absorbsi dan pembentukan senyawa kompleks. Pencemaran logam dapat menimbulkan berbagai masalah antara lain:
a. berhubungan dengan estetika seperti perubahan bau, warna, dan rasa air.
b. Dapat menyebabkan kerusakan ekosistem perairan.
Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur kadar logam berat di dalam perairan adalah Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS), atau Spektrofotometer Serapan Atom. AAS merupakan suatu metode spektroskopi yang memanfaatkan fenomena serapan sebagai dasar pengukuran, dimana terjadi penyerapan energi oleh atom-atom netral dalam keadaan gas. Daerah spektrum yang termasuk dalam metode ini adalah sinar tampak dan sinar UV. Prosedur analisisnya relatif sederhana dan analisis suatu logam tertentu dapat dilakukan dalam campuran dengan unsur lain.
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu instansi pemerintah yang bernaung di bawah kordinasi Badan Pemerintah Daerah setempat, dalam hal ini badan instansi Gubernur Sulawesi Selatan yang bertempat di Makassar. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) berorentasi terhadap lingkungan hidup, dimana kelestarian sumber daya air yang tersedia merupakan salah satu cakupan dari orientasi kerja instansi ini, yaitu memantau, menganalisa dan mengontrol adanya pencemaran yang terjadi di suatu lingkungan perairan dengan fasilitas sebuah laboratorium dengan instrumen-instrumen yang berteknologi tinggi, di antaranya adalah alat untuk mengukur logam berat, yaitu Atomic Absoption Spectrophotometer. Berdasarkan hal tersebut di atas maka penulis melakukan Praktek Kerja Lapang (PKL) di laboratorium Badan Pengendalian Lingkungan Daerah (Bapedalda).
B. Tujuan Kerja Praktek
Adapun tujuan yang hendak dicapai pada pelaksanaan Kerja Praktek (KP) pada Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Makassar adalah sebagai berikut :
1. Kerja Praktek (KP) merupakan upaya untuk mempersiapkan alumni jurusan kimia agar memiliki wawasan dan pengalaman kerja di industri/instansi dalam mempersiapkan diri memasuki lapangan kerja.
2. Menambah pengetahuan serta meningkatkan kretivitas mahasiswa, khususnya dalam melaksanakan pekerjaan di laboratorium. Melatih dan menigkatkan kemadirian, kedisiplinan, tanggung jawab dan sikap profesionalisme yang harus dimiliki oleh seorang ahli kimia apabila terjun ke dunia kerja.
3. Memperluas wawasan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan terjun langsung ke dunia kerja.
4. Memenuhu prasyarat dalam menyelesaikan studi pada Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Makassar.
Kegunaan dari praktek kerja lapang ini yaitu agar ilmu pengetahuan yang diperoleh dapat menambah wawasan dalam penentuan bahan pencemar logam berat misalnya Timbal (Pb), Cadmium (Cd), Tembaga (Cu), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), Zeng (Zn).
C. Ruang Lingkup Kegiatan Praktek
PKL ini dilaksanakan di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi Sulawesi Selatan dengan sampel air yang berasal dari sungai Tello Makassar
Lingkup batasan materi yaitu pengaplikasian alat AAS (Atomic Absorption Spektrophotometer) dalam penentuan beberapa logam berat, misalnya timbal (Pb). Cadmium (Cd), Tembaga (Cu), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), Zeng (Zn).
D. Gambaran Singkat Bapedalda
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi Sulawesi Selatan dibentuk sebagai penjabaran dari UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan kewenangan Provinsi sebagai daerah otonom serta Peraturan Pemerintah No. 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah. Dalam penjabaran undang-undang dan peraturan pemerintah tersebut, maka Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan menerbitkan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan N0.22 Tahun 2001 tentang pembentukan organisasi dan tata kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.
E. Visi dan Misi Bapedalda
a) Visi Bapedalda
Tercapainya keserasian antara pembangunan dan lingkungan secara dinamis, serasi dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat.
b) Misi Bapedalda
Berpedoman terhadap visi dengan kondisi objektif yang ada, maka Bapedalda merumuskan 12 butir misi sebagai berikut:
1. Mengembangkan nilai-nilai kearifan lingkungan masyarakat lokal dalam pemanfaatan sumber daya alam dan pengendalian dampak lingkungan melalui upaya-upaya peningkatan kemampuan kelembagaan
2. Meningkatkan kordinasi dan kerjasama di antara instansi pemerintah dan masyarakat dalam pengkajian dan perumusan masalah-masalah lingkungan strategis yang perlu diberi prioritas
3. Merumuskan dan mengembangkan sistem pembinaan, penyuluhan dan pendampingan pada masyarakat dalam pengendalian dampak lingkungan
4. Merumuskan dan mengembangkan kebijakan teknis dalam upaya pengendalian dan penanggulangan kerusakan ekosistem DAS, keanekaragaman hayati, lahan kritis, perambahan hutan dan penanganan tanah terlantar
5. Mengembangkan metode analisis dan pengendalian dampak kerusakan/pencemaran ekosistem wilayah pesisir, hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun, sungai dan ekosistem estuaria
6. Mengembangkan model-model pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup pada berbagai pembangunan industri dan ekonomi
7. Mengembangkan kebijakan teknis dalam pengendalian sistem pengawasan, pemantauan dan pemulihan lingkungan
8. Meningkatkan sistem pembinaan dalam pengendalian, pengawasan, pemantauan dan pemulihan lingkungan
9. Membina laboratorium dan teknologi manajemen pemulihan lingkungan
10. Merumuskan dan mengembangkan kebijakan teknis penataan hukum lingkungan, penegakan dan penyelesaian sengketa lingkungan hidup
11. Meningkatkan pembinaan dan kordinasi dalam pelaksanaan penyidikan dan evaluasi teknik di bidang penataan hukum dan penyelesaian sengketa lingkungan hidup
12. Meningkatkan upaya-upaya sosialisasi dan penyebarluasan informasi tentang produk-produk hukum bidang lingkungan hidup.
F. Tugas dan Fungsi
Dalam penjelasan Peraturan Daerah No. 22 Tahun 2001 pada Bab III pasal 4 dan 5 menjelaskan tugas Bapedalda yaitu membantu Gubernur dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dalam lingkup pengendalian dampak lingkungan daerah.
Dalam kaitannya dengan tugas tersebut Bapedalda memiliki fungsi :
1. Merumuskan kebijakan operasional pengendalian dampak lingkungan, pembangunan kapasitas lingkungan dan penataan hukum lingkungan
2. Pembinaan teknis pengendalian dampak lingkungan, pengembangan kapasitas lingkungan dan penataan hukum lingkungan
3. Pelaksana/kordinator pengendalian dampak lingkungan, pengembangan kapasitas lingkungan dan penataan hukum lingkungan
4. Pelaksanaan pengawasan, pemantauan dan pengendalian serta pemulihan pencemaran lingkungan dan kerusakan lingkungan
Bapedalda Provinsi Sulawesi Selatan terdiri dari unsur-unsur kelembagaan yang dipimpin oleh kepala instansi. Tugas dan fungsi jabatan dinas pada Bapedalda Provinsi Sulawesi Selatan yaitu:
1) Kepala Instansi
a. Kepala instansi mempunyai tugas memimpin, melakukan kordinasi, mediasi dan memfasilitasi penyelenggaraan dampak lingkungan
b. Dalam menyelenggarakan tugas tersebut pada ayat (1) Kepala Badan mempunyai fungsi :
1. Penetapan kebijakan teknis di bidang pengendalian dampak lingkungan hidup
2. Pelaksanaan kordinasi dan kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait di bidang pengendalian dampak lingkungan
3. Pemberdayaan instansi dan aparatur Bapedalda agar memiliki kredibilitas dan akuntabilitas
2) Sekretariat
a. Sekretariat mencakup beberapa sub bagian yaitu: Sub Bagian Keuangan, Sub Bagian Kepegawaian, Sub Bagian Umum, Sub Bagian Program
b. Sekretariat dipimpin oleh sekretaris yang mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis administrasi kepada seluruh organisasi dalam lingkup Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah
c. Dalam penyelenggaraan tugas tersebut, sekretaris mempunyai fungsi:
1. Pelaksanaan kordinasi, sinkronisasi dan integrasi kegiatan di lingkungan instansi
2. Pelaksanaan kordinasi penyusunan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tugas instansi
3. Pelaksanaan kordinasi perencanaan dan perumusan kebijakan teknis
4. Pelaksanaan kordinasi, kerjasama dengan mitra di bidang pengendalian dampak lingkungan hidup
5. Pelaksanaan pembinaan dan pelayanan administrasi, ketatausahaan organisasi dan tata laksana kepegawaian, keuangan, perlengkapan dan rumah tangga
6. Pelaksanaan kordinasi informasi dan hubungan masyarakat, kesiagaan dan penanganan darurat bencana lingkungan
7. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan kepala instansi sesuai dengan bidang tugasnya.
3) Bidang Pengembangan Kapasitas dan Kelembagaan :
a. Bidang Pengembangan Kapasitas dan Kelembagaan terdiri dari Sub Bidang Sumberdaya Manusia, Sub Bidang Kelembagaan dan Pembinaan Mitra Lingkungan, dan Sub Bidang Pemberdayaan Masyarakat
b. Bidang Pengembangan Kapasitas dan Kelembagaan dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas instansi di bidang Pengembangan Kapasitas dan Kelembagaan Lingkungan
c. Dalam tugas tersebut, bidang Pengembangan Kapasitas dan Kelembagaan mempunyai fungsi:
1. Penyusun kebijakan teknis di bidang Kelembagaan, Sumberdaya Manusia, Pemberdayaan Masyarakat dalam rangka pengendalian dampak lingkungan
2. Pembinaan kordinasi dan memfasilitasi Pengembangan Kapasitas dan Kelembagaan dalam rangka pengendalian dampak lingkungan hidup
3. Pembinaan, kordinasi dan memfasilitasi pengembangan kapasitas sumberdaya manusia dalam rangka pengendalian dampak lingkungan
4. Pembinaan, kordinasi dan memfasilitasi Pembangunan Pemberdayaan Masyarakat dalam rangka pengendalian dampak lingkungan
5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh kepala instansi sesuai bidang tugasnya

4) Bidang Analisis Pencegahan Dampak Lingkungan
a. Bidang Analisis Pencegahan Dampak Lingkungan mencakup: Sub bidang Analisis Mengenai dampak Lingkungan, Sub Bidang UKL dan UPL, dan Sub Bidang Pelestarian Sumberdaya Alam.
b. Bidang Analisis Pencegahan Dampak Lingkungan dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Bapedalda di bidang Pembinaan dan Pengendalian Teknis Amdal.
c. Dalam menyelenggarakan tugas tersebut, bidang Analisis Pencegahan Dampak Lingkungan mempunyai fungsi:
1. Penyusunan bahan rumusan kebijakan teknis pengembangan Amdal, kajian dampak lingkungan dan UKL/UPL dan pelestarian sumberdaya alam
2. Pembinaan dan pengembangan, penilaian dan pembinaan kemampuan teknis, kondisi penilaian komisi Amdal, UKL/UPL
3. Pengkajian dan evaluasi hasil Amdal, UKL/UPL
4. Pelaksanaan pelestarian sumberdaya alam
5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan kepala instansi sesuai bidang tugasnya
5) Bidang Pengawasan Pemantauan dan Pemulihan
a. Bidang Pengawasan Pemantauan dan Pemulihan mencakup: Sub Bidang Pengawasan dan Pemantauan, Sub Bidang Pengendalian dan Pemulihan dan Sub Bidang Laboratorium
b. Bidang Pengawasan, Pemantauan dan Pemulihan dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas instansi di bidang Pengawasan, Pemantauan dan Pemulihan serta kordinasi pelaksanaan pengendalian dampak lingkungan.
c. Dalam menyelenggarakan tugas tersebut, bidang Pengawasan Pemantauan dan Pemulihan mempunyai fungsi:
1. Penyusunan bahan rumusan kebijakan teknis, pelaksanaan, pengawasan, pemantauan dan pemulihan lingkungan
2. Pembinaan, pengawasan, pemantauan dan pemulihan lingkungan serta pengawasan pelaksanaan pengelolaan lingkungan dan Amdal
3. Pembinaan laboratorium dan perangkat manajemen/teknologi pemulihan lingkungan
4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan Kepala Instansi sesuai bidang tugasnya
6) Bidang Penataan Hukum
a. Bidang Penataan Hukum mencakup: Sub Bidang Produk Hukum, Sub Bidang Penegakan Hukum dan Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup, dan Sub Bidang Informasi Lingkungan.
b. Bidang Penataan Hukum dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas badan penataan hukum lingkungan
c. Dalam menyelenggarakan tugas tersebut, Bidang Penataan Hukum mempunyai fungsi:
1. Penyusunan bahan kebijakan teknis di bidang penataan hukum lingkungan dan perangkat/produk hukum lingkungan, penegakan hukum dan penyelesaian sengketa lingkungan
2. Pembinaan dan kordinasi pelaksanaan penyidikan dan evaluasi teknis di bidang penataan dan penegakan hukum serta penyelesaian sengketa lingkungan hidup
3. Pembinaan dan kordinasi pengembangan dan penerapan informasi lingkungan
4. Pelaksanaan tugas lain diberikan Kepala Instansi sesuai dengan bidang tugasnya
7) Jabatan Fungsional
Jabatan fungsional mempunyai tugas dan fungsi membantu pekerjaan Bapedalda Provinsi Sulawesi Selatan sebagaimana surat keputusan Gubernur yang telah dikeluarkan.
Sub Bidang Laboratorium yang merupakan cakupan dari Bidang Pengawasan Pemantauan dan Pemulihan, merupakan bagian yang sesuai untuk saya melakukan Praktek Kerja Lapang (PKL), dimana sarana dan prasarana laboratorium yang menunjang terutama instrumen AAS serta para staf yang berkompeten di bidangnya masing-masing yang membantu saya saat PKL.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Instrumentasi AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer)
Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) adalah suatu alat spektroskopi yang memanfaatkan fenomena serapan sebagai dasar pengukuran, dimana terjadi penyerapan energi oleh atom-atom netral dalam keadaan gas. Daerah spektrum yang termasuk dalam metode ini adalah sinar tampak dan sinar UV. Prosedur analisisnya relatif sederhana dan analisis suatu logam tertentu dapat dilakukan dalam campuran dengan unsur lain (Gambar 1).

Gambar 1. Instrumen Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS)
Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) dalam kimia analitik didefinisikan sebagai suatu metode untuk penentuan konsentrasi dari suatu unsur dalam suatu cuplikan dengan cara mengukur absorbsi radiasi uap atom yang dihasilkan dari cuplikan pada panjang gelombang yang spesifik dan karakteristik dari setiap unsur (Noor, 1997).
Secara garis besar, instrumentasi Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) terdiri atas 5 komponen utama, yaitu:
1. Sumber cahaya yang mengemisikan spektrum unsur tertentu
Hal yang paling penting di antara sumber instrumentasi Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) adalah sumber cahaya. Cahaya pada AAS berasal dari lampu katoda berongga (Hollow Chatode Lamp) (Gambar 2). Lampu katoda yang terdiri dari bagian anoda dan katoda dipasang bersebelahan dalam tabung gelas yang mempunyai jendela kuarsa pada ujung tabung. Tabung gelas diisi dengan gas argon atau neon pada tekanan rendah. Potensial sebesar 400 volt dipasang antara kedua elektroda. Bila lampu dinyalakan gas inert mengionisasi, yaitu medan listrik melepaskan elektron keluar dan atom berubah menjadi ion positif. Ion-ion ini menumbuk permukaan logam katoda dan mengakibatkan sebahagian logam menguap. Atom logam dalam keadaan uap tereksitasi, yaitu elektron pindah ke lintasan dengan energi lebih tinggi. Bila elektron kembali ke lintasan lebih rendah (semula) kelebihan energi dilepas sebagai kuantum cahaya.

Gambar 2. Lampu katoda.
2. Sel cuplikan berupa nyala api tempat dihasilkan atom unsur cuplikan
Dalam pengukuran dengan metode AAS, analit harus berada dalam keadaan atom-atom netral, yang masih dalam keadaan dasarnya. Ada macam-macam cara yang dapat digunakan untuk memperoleh uap atom-atom netral. Cara yang dipakai dalam AAS adalah menggunakan nyala api.
3. Monokromator
Pada bagian ini terjadi seleksi cahaya. Cahaya dengan frekuensi dan panjang gelombang tertentu yang sesuai dengan yang diinginkan melewatinya. Monokromator AAS dilengkapi dengan celah masuk dan keluar dan kisi atau prisma sebagai unsur dispersi. Tombol panjang gelombang dapat diatur untuk memilih panjang gelombang yang diinginkan.
4. Detektor
Pada bagian ini, detektor berfungsi untuk mengubah energi cahaya yang masuk menjadi arus listrik atau sinyal elektrik.
5. Pengolah sinyal dan pembacaan
Melalui amplifier, arus listrik yang masuk kemudian dicatat oleh alat pencatat dan ditampilkan sebagai nilai absorbansi.

B. Prinsip Kerja Alat Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS)
Penentuan kandungan logam berat menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Penentuan kadar logam berat dengan menggunakan metode tersebut didasarkan pada Hukum Lambert-Beer, yaitu banyaknya sinar yang diserap berbanding lurus dengan kadar zat. Persamaan garis antara kadar zat dengan absorbansi adalah persamaan garis lurus dengan koefisien arah posistif Y = a + bX. Dengan memasukkan nilai absorbansi larutan contoh ke dalam persamaan garis dari larutan standar maka kadar logam berat dalam contoh dapat diketahui.
Oleh karena yang mengabsorbansi sinar adalah atom, maka ion/senyawa logam berat dalam contoh harus diubah dalam bentuk atom. Perubahan bentuk ion menjadi atom dilakukan pada suhu tinggi (2000oC) melalui pembakaran atau dengan energi listrik.
C. Preparasi Sampei AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer)
Analisis logam berat terbagi atas tiga tahapan utama yaitu tahap pengambilan sampel, tahap preparasi sampel dan tahap pengukuran pada AAS. Pada tahap preparasi sampel, yang pertama disediakan adalah sampel air yang diambil sesuai dengan metode pengambilan contoh uji kualitas air.
D. Keunggulan dan Kekurangan AAS ( Atomic Absorption Spektrophotometer )
Keunggulan dari metode analisis logam berat dengan menggunakan instrumentasi Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) adalah:
1. Memiliki kepekaan yang tinggi karena dapat mengukur kadar logam hingga konsentrasi yang sangat kecil.
2. Memiliki selektivitas yang tinggi karena dapat menentukan beberapa unsur sekaligus dalam suatu larutan tanpa perlu pemisahan.
3. Pengerjaan dan pemeliharaan alat AAS tidak memerlukan keterampilan yang tinggi.
4. AAS dapat digunakan sampai 61 jenis logam.
Sedangkan kelemahan dari analisis logam berat dengan metode Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) ini adalah:
1. Beberapa unsur tidak mudah menghasilkan uap atom dalam keadaan dasar ketika mencapai nyala, seperti tidak terdiosiasinya oksida-oksida atau senyawa stabil lainnya seperti Al, Sid an Ti.
2. Oleh karena beberapa nyala lebih tepat untuk beberapa unsur tertentu, maka bertambahnya analit yang akan ditentukan memerlukan tidak hanya suatu penukaran sumber sinar dan setting.
E. Logam berat
Disebut logam berat berbahaya karena umumnya memiliki rapat massa tinggi dan sejumlah konsentrasi kecil dapat bersifat racun dan berbahaya. Yang termasuk golongan logam berat adalah seluruh elemen logam kimia. Merkuri atau raksa (Hg), kadmium (Cd), arsen (As), kromium (Cr), talium (Tl), dan timbal (Pb) adalah beberapa contoh logam berat berbahaya.
Logam berat merupakan komponen alami tanah. Elemen ini tidak dapat didegradasi maupun dihancurkan. Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh manusia lewat makanan, air minum, atau melalui udara. Logam-logam berat seperti tembaga, selenium, atau seng dibutuhkan tubuh manusia untuk membantu kinerja metabolisme tubuh. Logam-logam tersebut berpotensi menjadi racun jika konsentrasi dalam tubuh tinggi.
Logam berat menjadi berbahaya disebabkan sistem bioakumulasi. Bioakumulasi berarti peningkatan konsentrasi unsur kimia tersebut dalam tubuh makhluk hidup sesuai piramida makanan. Akumulasi atau peningkatan konsentrasi logam berat di alam mengakibatkan konsentrasi logam berat di tubuh manusia adalah tertinggi.
Jumlah yang terakumulasi setara dengan jumlah logam berat yang tersimpan dalam tubuh ditambah jumlah yang diambil dari makanan, minuman, atau udara yang terhirup. Jumlah logam berat yang terakumulasi lebih cepat dibandingkan dengan jumlah yang terekskresi dan terdegradasi.
Sedangkan beberapa logam seperti seng, kromium, besi, mangan, dan tembaga diperlukan tubuh dalam konsentrasi kecil, tetapi dapat menjadi racun dalam jumlah besar. Logam dapat menumpuk dalam tubuh melalui makanan, air, udara, atau absorpsi langsung melewati kulit. Ketika logam berat sudah masuk dalam tubuh, elemen ini akan menggantikan tempat mineral-mineral lain yang dibutuhkan tubuh seperti seng, tembaga, magnesium, dan kalsium, dan unsur logam berat tersebut akan beredar dalam sistem fungsi organ. Kemungkinan utama yang mengalami keracunan logam berat adalah penduduk dan karyawan di wilayah sekitar industri, pabrik farmasi, pabrik kimia, pertambangan, serta pertanian yang banyak menggunakan insektisida
Timbal (Pb) merupakan kandungan logam berat yang memiliki sifat toksik yang tinggi. Logam ini berasal dari buangan industri baja/metal dan juga berasal dari proses korosi yang terjadi (Anonim, 1996).
Timbal (Pb) sangat berpengaruh pada lingkungan perairan dan mahluk hidup, dimana timbal ini merupakan logam berat yang memiliki sifat toksik yang tinggi. Timbal (Pb) tidak boleh masuk ke dalam tubuh organisme walaupun konsentrasinya kecil. Palar (1994) menyatakan bahwa konsentrasi timbal (Pb) yang dapat mengakibatkan kematian bagi biota perairan yaitu 188 mg/l dan dapat membunuh ikan-ikan.
Kadmium (Cd), salah satu unsur kimia ini banyak digunakan sebagai lapisan tahan korosi pada baja atau plastik, pewarna, alat-alat elektronik, serta baterai nikel/kadmium. Akumulasi kadmium dalam waktu yang lama pada tubuh manusia mengakibatkan berbagai disfungsi organ dan metabolisme. Konsentrasi tinggi logam ini dapat menghalangi kerja paru-paru, bahkan mengakibatkan kanker paru-paru.
Kadmiun juga dapat merusak tulang (osteomalacia, osteoporosis) pada manusia dan hewan. Sejumlah tertentu metal ini meningkatkan tekanan darah serta mengakibatkan myocardium pada hewan, meski tidak ditemukan data adanya kasus penyakit tersebut pada manusia. Setiap hari manusia rata-rata menghirup 0,15 myugram timbal dari udara dan meminum 15 g timbal dari perairan. Menghisap sebanyak 20 rokok sehari setara dengan menghirup 2-45 g kadmium, di mana level konsentrasi timbal pada tiap jenis rokok sangat beragam (Pikiran Rakyat, 2006).
Tembaga atau copper (Cu) merupakan logam berat yang dijumpai pada perairan alami dan ,merupakan unsur yang esensial bagi tumbuhan dan hewan. Pada tumbuhan, termasuk algae, tembaga berperan sebagai penyusun plastocyanin yang berfungsi dalam transfor elektron dalam proses fotosintesis (Boney, 1989 dalam Effendi, 2003). Kadar tembaga pada kerak bumi sekitar 50 mg/kg (Moore, 1991 dalam Effendi, 2003).
Seng (Zn) termasuk unsur yang terdapat dalam jumlah berlimpah di alam. Kadar seng pada kerak bumi sekitar 70 mg/kg (Moore, 1991 dalam Effendi, 2003). Kelarutan unsur seng dalam air relatif rendah. Seng yang berikatan dengan klorida dan sulfat mudah larut, sehingga kadar seng dalam air sangat dipengaruhi oleh bentuk senyawanya. Ion seng mudah terserap kedalam sedimen dan tanah. Silika terlarut dapat meningkatkan kadar seng, karena seng silika mengikat seng. Jika perairan bersifat asam, kelarutan seng meningkat. Kadar seng pada perairan alami 0,05 mg/liter (Moore, 1991 dalam Effendi, 2003). Pada perairan asam mencapai 50 mg/liter; dan pada perairan laut 0,01 mg/liter 0,01 mg/liter McNeelyet al. 1979 dalam Effendi, 2003).
Kalsium (Ca) sangat dipengaruhi oleh reaksi kimia yang melibatkan karbondioksida. Cole (1988) dalam Effendi (2003) mengemukakan bahwa perairan yang miskin akan kandungan kalsium biasanya juga miskin akan kandungan ion-ion lain yang sangat dibutuhkan oleh organisme akuatik. Sumber utama kalsium di perairan adalah batuan dan tanah.
Magnesium (Mg) adalah logam alkali tanah yang cukup berlimpah pada perairan alami. Bersama dengan kalsium, magnesium merupakan penyusun utama kesadahan. Garam-garam magnesium bersifat mudah larutdan cenderung bertahan sebagai larutan, meskipun garm-garam kalsium telah mengalami presipitasi (Effendi, 2003).
Magnesium bersifat tidak toksik, bahkan menguntungkan bagi fungsi hati dan system saraf. Akan tetapi, Cole (1988) dalam Effendi (2003) mengemukakan bahwa kadar MgSO4 yang berlebihan dapat mengakibatkan anesthesia pada organisme vertebrata dan avertebrata. Pada tumbuhan, manesium terdapat pada klorofil. Kadar magnesium pada perairan alami bervariasi antara 1-100 mg/liter; pada perairan laut mencapai 1000 m/liter. Kadar maksimum yang diperkenankan untuk kepentingan air minum adalah 50 mg/liter (Effendi, 2003)

BAB III
KEGIATAN KERJA

A. Waktu dan Tempat
Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan pada tanggal 24 Januari – 24 Februari 2006 di Laboratorium Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi Sulawesi Selatan, Jl Urip Sumoharjo, No. 269 Makassar.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan selama praktek kerja lapang di laboratorium maupun di lapangan adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Alat yang digunakan di lapangan
Alat Kegunaan
Mobil Operasional Alat transportasi
Timba Untuk mengambil air sampel di permukaan
Ember Untuk menampung air sampel yang diambil sebelum dimasukan kedalam cool box
Botol Sampel Tempat untuk menampung sampel
Cool Box Tempat untuk menyimpan sampel dari lapangan ke laboratorium
Alat tulis menulis Untuk mencatat data-data yang diperlukan saat di lapangan

Tabel.2 Alat yang digunakan di laboratorium
Alat Kegunaan
AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) Alat untuk mengukur kandungan logam berat
Medicool (refrigerator) Sebagai tempat penyimpanan sampel
Gelas kimia Untuk tempat sampel
Vacuum pump Mempercepat penyaringan
Erlenmeyer Untuk menampung hasil saringan
Corong Untuk membantu penyaringan
Pipet Volume Untuk mengukur volume sampel dan larutan
Gelas ukur Mengukur volume larutan dan sampel
Labu ukur Untuk membuat larutan induk dan larutan standar
Alat tulis menulis Untuk mencatat informasi dan data yang diperlukan

Bahan-bahan yang digunakan adalah:
– Sampel (air sungai Tello)
– Aquades
– Kertas saring Millipore 0,45 m.
– Tissu roll
– Larutan asam nitrat (HNO3) pekat
– Bahan pereaksi kimia untuk pembuatan larutan standar
– Gas Acetylen (H2O – C2H2)
– Udara kompresor
C. Preparasi Sampel
Pada tahap ini, pertama-tama diambil contoh uji 50 ml, dikocok dan dimasukan ke dalam gelas piala 100 ml, ditambahkan 5 ml larutan asam nitrat (HNO3) pekat dan dipanaskan perlahan-lahan pada temperatur 150oC di dalam ruang asam sampai sisa volumenya 15-20 ml. Tambahkan 5 ml larutan asam nitrat (HNO3) pekat, dan dipanaskan kembali pada temperatur 150oC di dalam ruang asam sampai volumenya ±10 ml hingga larutan contoh jernih. Setelah itu contoh uji didinginkan, kemudian disaring memakai vacuum pump dengan menggunakan kertas saring Whatman yang berpori-pori 0,45 µm ke dalam labu ukur 50 ml dan ditambahkan air suling sampai tepat tanda tera dan kemudian diukur pada AAS (Atomic Absorption Spektrofotometer). Untuk kemanan diri sebaiknya digunakan sarung tangan dan pemanasan HNO3 dilakukan pada ruang asam.
D. Pengukuran Sampel pada Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS)
Setelah dilakukan preparasi sampel, selanjutnya dilakukan pengukuran logam berat dengan menggunakan alat AAS, dimana untuk satu logam berat digunakan satu lampu katoda sesuai dengan logam berat yang akan diukur.
a. Prosedur Pembuatan Larutan Standar untuk air sungai
1) Dipipet 5 ml larutan baku 1000 ppm (sesuai dengan jenis logam yang akan diukur) ke dalam labu ukur 50 ml,
2) Diimpitkan (ditera) dengan aquadest sampai tanda batas.
b. Prosedur meminimalisasi kesalahan data di lapangan
1) Alat yang digunakan di lapangan sudah dicuci bersih sebelumnya
2) Untuk penentuan kandungan logam maka hindari pengambilan sampel dan tempat penyimpanan sampel dari bahan logam, sebaiknya digunakan dari bahan plastik polyetilen atau kaca
c. Prosedur meminimalisasi kesalahan data di laboratorium
1) Alat yang digunakan di glassware sudah dikalibrasi terlebih dahulu oleh badan standarisasi nasional
2) Pencucian gelas yang dipakai dengan menggunakan tipol (deterjen bebas fosfat khusus untuk galssware)
3) Dibilas dengan air keran ± 2 x, kemudian dibilas dengan aquades ± 2 x dan terakhir dibilas dengan HNO3
d. prosedur kerja dari alat ini yaitu (DPP, 2000):
1. Buka kran gas utama pada tabung gas yang akan digunakan (Acetylene atau Nitrogen Oksida).
2. Hidupkan kompresor udara (buka kran di bawah tabung kompresor sampai udara yang dialirkan betul-betul kering baru ditutup).
3. Buka kran gas dan udara.
4. Hubungkan alat dengan sumber listrik 220 v (pakai stavolt).
5. Hidupkan ventilasi exhauting.
6. Pasangkan lampu cathode sesuai dengan logam yang akan diuji.
7. Hidupkan instrumen AAS dengan menekan tombol power ON.
8. Hidupkan komputer dengan menekan tombol power ON.
9. Klik 2 kali pada icon tanda AA-6200 pada dekstop monitor komputer.
10. Kik WIZARD.
11. Klik Connect. Proses instalasi dimulai sampai jenis yang akan diperiksa tampak awalnya berwarna kuning berubah menjadi hijau (bila ada masalah dengan instalisasi akan berwarna hijau).
12. Klik OK lalu klik NEXT.
13. Perhatikan dialog box, masukkan simbol elemen I yang akan diuji (timbal) dalam MEASURE secara langsung dari keyboard, kemudian klik OK untuk memilih elemen dari table elemen.
14. Klik NEXT kemudian atur panjang gelombang dan lampu cathode yang ada pada hollow cathode lamp sesuai dengan elemen yang akan diuji maka secara otomatis akan tersetel.
15. Lakukan penyetelan SLITH yang ada pada kiri alat AAS sesuai dengan yang tertayang pada SLITH WIDTH.
16. Klik LAMPU ON klik WARM UP LAMP.
17. Klik LINE SEARCH dan perhatikan tayangan LINE SEARCH dan BEAM BALANCE pada dialog box, klik DO LINE SEARCH dan tunggu sampai tanda LINE SEARCH dan BEAM BALANCE OK semua (bila hasilnya salah kembali ke awal).
18. Klik CLOSE, klik NEXT penyesuaian posisi lampu dilakukan.
19. Perhatikan dialog box, min dan current (atur bila perlu dengan memutar HOLLOW CATHODE LAMP pada turretnya pada sekitar sumbu optikal, bila nilai max melebihi 1,00 klik tombol BACK untuk kembali ke tayangan sebelumnya dan eksekusi LINE SEARCH sekali lagi).
20. Klik NEXT dan perhatikan tayangan dialog box.
21. Klik LAMP ON, klik LINE SEARCH, klik DO LINE SEARCH, dan tunggu sampai tanda LINE SEARCH, OK dan BEAM BALANCE OK, klik CLOSE.
22. Klik NEXT, klik USE ASC, klik CONNECT.
23. Klik NEXT dan persiapkan pengukuran standar (banyaknya standar, konsentrasi standar, dan satuan), klik CALIBRATION CURVE, tentukan order klik ZERO INTERCEPT.
24. Klik NEXT dan perhatikan dialog box klik ENABLE, masukan nilai numeriknya pada EVERY SAMPLE dan masukan nilai konsentrasinya.
25. Klik REPEAT CONDITION dan perhatian dialog box atur bila, perlu klik OK, klik OPTION, perhatikan dialog box pilih pengukuran yang diinginkan.
26. Klik FINISH, lalu siapkan standar dan contoh yang akan diuji.
27. Mulai pengapian dengan menekan tombol FURGE dan IGNITE secara bersamaan.
28. Mulai pengukuran klik START dan seterusnya.
29. Bila semua pengukuran telah selesai klik FILE, lalu SAVE AS, masukkan nama file eksekusi penyimpanan.
30. Klik FILE lalu PRINT DATA dan PARAMETER atau PRINT TABLE DATA (pilih yang diinginkan).
31. Bila semua pekerjaan pengujian telah selesai matikan alat utama AAS dengan menekan tombol EXTINGUISH, setelah api padam tekan tombol power ke OFF.
32. Klik START lalu SHUTDOWN yes, lalu tekan tombol power komputer.
33. Putuskan hubungan alat dengan sumber arus listrik dan bersihkan alat.
E. Hasil Uji Beberapa Logam Berat dengan AAS
Setelah dilakukan pengujian secara laboratorium diperoleh hasil sbb :

No Parameter Satuan Hasil Uji Metode Uji
1 Seng (Zn) µg/g 81,798 SNI 06 – 2507 – 1991
2 Mangan (Mn) µg/g 18,616 SNI 06 – 2497 – 1991
3 Tembaga (Cu) µg/g 76,282 SNI 06 – 2516 – 1991
4 Besi (Fe) µg/g 32,941 SNI 06 – 2525 – 1991
5 Kadmium (Cd) µg/g TT SNI 06 – 2464 – 1991
6 Kalsium (Ca) µg/g 126,233 SNI 06 – 2429 – 1991
7 Magnesium (Mg) µg/g 220,612 SNI 06 – 2430 – 1992
8 Timbal (Pb) µg/g TT SNI 06 – 2517 – 1991
Keterangan: Sumber Titik : Sungai Tello
Pelaksana Sampling : Laboratorium Bapedalda Provinsi Sul Sel TT : Tidak Terdeteksi

Hasil pengujian beberapa logam berat dengan AAS, didapatkan bahwa logam berat timbal (Pb) dan cadmium (cd) tidak terdeteksi. Dari 61 logam berat yang dapat diuji dengan menggunakan AAS, hanya ada 8 logam berat saja yang diuji, antara lain timbal (Pb), seng (Zn), mangan (Mn), tembaga (Cu), besi (Fe), kadmium (Cd), kalsium (Ca), dan magnesium (mg).

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat penulis tarik selama praktek lapang di Laboratorium Bapedalda Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar, yaitu :
a) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai peranan dalam pengawasan, pemantauan, pengendalian dan pemulihan pencemaran lingkungan serta kerusakan lingkungan di provinsi Sulawesi Selatan.
b) Tahapan penentuan logam berat terbagi atas tiga tahap, yaitu tahap penentuan titik dan pengambilan sampel di lapangan, tahap preparasi serta tahap pengukuran sampel dengan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS)
c) Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) merupakan instrumen untuk menganalisa logam-logam berat yang cepat dan cukup akurat digunakan.
B. Saran
Perlu adanya penataan letak alat-alat di laboratorium untuk kenyamanan dalam melakukan aktivitas di laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA
Bapedal, 1994. SNI: Pengujian Kualitas Air Sumber dan Limbah Cair. Direktorat Pengembangan Laboratorium Rujukan dan Pengolahan Data Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.

Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran Hubungannya dengan Toksikologi Senyawa Logam. UI-Press, Jakarta

Departemen Perindustrian dan Perdagangan. 2000. Instruksi Kerja Pengoperasian dan Perawatan Alat Spectrophotometer Serapan Atom AA-6200. Balai Industri Ujung Pandang, Makassar,

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air, Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius, Yogyakarta.

Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Kanisius, Yogyakarta.

Huheey. J, E. 1983. Inorganic Chemistry Principles of Structure and Reactivity. Haver Internasional, New York.

Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Sumirat, J. 1994. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada. University Press, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: