ANALISIS KADAR TANIN PADAKULIT BUAH KAKAO (Theobroma Cacao L)* ABSTRAK Buyung Suwardi Umar**

ANALISIS KADAR TANIN PADAKULIT BUAH KAKAO
(Theobroma Cacao L)*

ABSTRAK
Buyung Suwardi Umar**

Analisis Kadar Tanin Pada Kulit Buah Kakao. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kadar tanin maksimum pada kulit buah kakao dengan variasi 2, 3, 4 dan 5 jam. Sampel pada penelitian ini adalah kulit buah kakao yang berasal dari Kabupaten Sinjai. Dalam hal ini buah kakao yang segar dengan tingkat kematangan sama dan dengan warna yang sama pula.b Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Makassar dengan metode ekstraksi. Jumlah unit perlakuan sebanyak 12 dan setiap unit dilakukan tiga kali analisis dengan perlakuan waktu ekstraksi 2, 3, 4 dan 5 jam. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa kadar tanin yang maksimal pada kulit kakao 2,02 % dengan waktu ekstraksi 4 jam.

Keyword :, Ekstraksi, Kadar Tanin, Kakao.

PENDAHULUAN
Salah satu tanaman perkebunan yang dapat dikembangkan untuk memberikan sumbangan bagi devisa Negara , sekaligus memnuhi kebutuhan dalam negeri adalah tanaman kakao (Theobroma Cacao L). Komoditi perkebunan ini memiliki peranan penting dalam perdagangan internasional. Karena disamping dibutuhkan oleh industri non bahan makanan, farmasi, industri obat – obatan dan industri kosmetik. Selain itu diharapkan pula dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Meningkatnya produksi kakao saat ini, berarti semakin meningkat pula limbah yang dihasilkan. Produk utama kakao adalah biji kakao sedangkan limbahnya seperti kulit buah dan kulit biji dapat pula dimamfaatkan.
Kulit kakao, sampai saat ini meruapakan bahan sisa pengolahan biji kakao yang belum dimamfaatkan selayaknya. Keadaan ini menyebabkan kulit kakao secara ekonomi tidak mempunyai nilai, padahal kulit kakao sesungguhnya merupakan bahan buangan yang banyak mengandung senyawa kimia salah satu diantaranya tanin.

* Analisis Kadar Tanin Pada kulit Buah Kakao (Theobroma cacao L). Dikutip dari Skripsi Darmaniah Mahasiswa Kimia Non – Kependidikan 1998.
** Mahasiswa Kimia Non – Kependidikan 2002

Dalam hal ini merupakan tantangan bagi ilmuwan kimia untuk dapat memamfaatkan kulit buah kakao agar mempunyai nilai ekonomi dan tidak menjadi masalah bagi lingkungan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh masyita 1999. bahwa pada kulit buah coklat mengandung kadar tanin sebesar 1,16 %. Selain terdapat pada kulit buah kakao juga terdapat pada kulit bakau, akasia, jambu mente, kedelai, buah rambutan, buah pinang dan daun jambu biji.
Tanin merupakan salah satu bahan kimia yang bermamfaat yang dapat diperoleh dari daun, akar, kulit, buah dan kayu tanaman. Ekstrak tanin dapat digunakan dalam industri semen, keramik, dan industri lainnya yang sejenis. Selain itu tanin bermamfaat pula sebagai zat penyamak, pewarna pada tekstil, bahan obat industri farmasi dan dikembangkan pula sebagai pengganti fenol untuk campuran bahan perekat.
Tanin dapat diekstraksi dengan menggunakan air, karena salah satu sifat tanin adalah larut dalam air. Tanin mudah larut dalam air disebabkan karena adanya gula yang terikat.
Bertitik tolak dari hal tersebut diatas maka, dalam penelitian ini tanin dipisahkan dari kulit buah kakao dengan cara ekstraksi menggunakan air panas dengan suhu 70o C dengan variasi waktu 2 jam sampai 5 jam.

METODE PENELITIAN

Variabel Penelitian
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kadar tanin, dan waktu ekstraksi 2, 3, 4, sampai 5 jam sedangkan. variabel terikat adalah air panas, petroleum eter sebagai pelarut dalam mengekstraksi dan FeCl3 0,5 M , H2SO4 pekat digunkanan pada uji kualitatif.

Proses pengolahan sampel
Kulit buah kakao dibersihkan, dipotong-potong, kemudian dikeringkan selama 3 hari, dan dihaluskan.

Proses ekstraksi
Menimbang 20 gram sampel yang telah dihaluskan, lalu dimasukkan labu alas bulat, kemudian dihilangkan lemaknya dengan cara diekstraksi selama 5 jam dengan cara Soxleth menggunakan pelarut petroleum eter sebanyak 150 mL. sampel yang bebas lemak dipindahkan kedalam gelas kimia, kemudian ditambahkan dengan 500 mL air hangat kemudian dipanaskan dengan pemanas listrik pada suhu 70o C sambil diaduk, sampei waktu ekstraksi yang telah ditentukan. Hasil ekstraksi didinginkan dan disaring. Kemudian larutan ekstrak didestilasi dengan menggunakan destilasi vakum pada suhu 60o – 80o C. Kemudian dicuci dengan petroleum eter sebanyak 3 kali dan dipisahkan filtratnya.

Uji Tanin secara kualitatif
1. Larutan ekstrak tambah larutan FeCl3 0,5 M sehingga warna larutan berubah menjadi biru kehitaman, kemudian ditambahkan larutan H2SO4 pekat, terbentuk endapan coklat.
2. Larutan ekstrak ditambahkan dengan gelatin dan terbentuk endapan.

Uji kuantitatif tanin (penentuan kadar tanin)
Kedalam cawan yang telah diketahui beratnya diisi dengan larutan ekstrak, kemudian dimasukkan kedalam oven pada suhu 70o C. sampai tidak ada cairan dalam cawan atau kering. Kemudian cawan yang berisi ekstrak tersebut didinginkan dalam eksikator, kemudian ditentukan kadar tanin

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil ekstraksi kulit buah kakao dengan pelarut air panas pada suhu 70o C dengan variasi waktu 2 jam – 5 jam. Diperoleh rata-rata kadar tanin dalam ekstrak kulit buah kakao disajikan pada table dibawah ini.

Tabel hubungan antara waktu ekstraksi, berat dan kadar tanin yang diperoleh
No. Waktu ekstraksi (jam) Berat Tanin Kadar Tanin (%)
1.
2.
3.
4. 2
3
4
5 0,2330
0,2865
0,4039
0,3562 1,16
1,43
2,02
1,78

Gambar. grafik hubungan antara waktu ekstraksi terhadap kadar tanin

Ekstraksi tanin pada kulit kakao menggunakan air panas sebagai pelarut terutama karena kelarutan yang terbesar pada air panas, selain itu juga memberikan keuntungan antara lain mudah diperoleh, stabil, tidak mudah menguap, tidak mudah terbakar, tidak beracun, alamiah dan murah. Hal ini sama diungkapkan oleh Browning (1980) bahwa semua jenis tanin larut dalam air, kelarutannya akan bertambah besar apabila dilarutkan adalam air panas. Markhan (1988) mengatakan bahwa karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil pada flavanoid (bentuk tanin yang umum ditemukan) maka cenderung menyebabkan flavanoid mudah larut dalam air panas atau larutan basa encer karena cara ini adalah cara yang termurah dengan perolehan ekstraksi uang cukup besar. Ekstrak tanin dalam ekstrak kulit buah dilakukan pada suhu 70oC. karena pada suhu itu dapat dikatakan tanin yang besar dan viskositas pelarut rendah (kecil). Hal ini didukung oleh pendapat Liiri.ct al. (1982) bahwa ekstraksi tanin yang baik adalah 60 -80o C.
Uji tanin secara kuantitaif yaitu larutan ekstrak tambah FeCl3 0,5 M warna larutan berubah menjadi biru kehitaman, kemudian ditambahkan larutan H2SO4 pekat, terbentuk endapan kecoklatan-coklatan. Dan larutan ekstrak ditambahkan dengan larutan gelatin maka terbentuk endapan berwarna coklat susu. Berdasarkan uji kualitatif diduga bahwapada ekstrak kulit buah kakao terdapat senyawa tanin.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi tanin dengan air panas menghasilkan kadar tanin yang mengikat sejalan meningkatnya lama ekstraksi dari 2 jam sampai dengan 4 jam dan terjadi penurunan kembali setelah waktu ekstraksi 5 jam.
Dari grafk terlihat waktu ekstraksi 2 jam, 3 jam, menghasilkan kadar tanin masing-masing 1,16 % dan 1,43 % hal ini disebabkan kelarutan tanin dalam pelarut masih terlarut sebahagian, kelarutan tanin belum mencapai keadaan seimbang. Kontak antara zat yaitu tanin dengan air panas sebagai pelarut dapat dikatakan masih berlangsung tetapi waktu ekstraksi telah dihentikan sehingga masih ada sebahagian yang belum larut maka perolehan kadar taninnya pun masih rendah.
Waktu ekstraksi 4 jam diperoleh kadar tanin dalam ekstrak kulit buah kakao tertinggi yaitu 2,02 %. Hal ini disebabkan karena kontak antara zat terlarut yaitu tanin dengan air

panas sebagai pelarut telah mencapai titik keseimbangan sehingga dapat diatakan tidak ada lagi tanin yang tidak larut.
Sedangkan waktu ekstraksi 5 jam diperoleh kadar tanin dengan ekstrak kulit buah kakao sebesar 1,78 %. Kadar tanin ini cenderung menurun. Hal ini disebabkan karena tanin melampaui titik keseimbangan, tidak terjadi difusi zat terlarut kedalam pelarut. Kemungkinan lain disebabkan oleh terjadinya degradasi oleh lama ekstraksi, namun demikian tidak hanya lama ekstraksi yang menyebabkan proses degradasi tetapi biasa saja dengan suhu ekstraksi yang tinggi, kadungan air dan keadaan distribusi pelarut.
Walaupun dalam penelitian ini kadar tanin yang diperoleh dalam ekstrak kulit buah kakao tertinggi 2,02%. Dapat dikatakan bahwa perolehan ini realati rendah. Hal ini disebabkan kandungan senyawa aktif dalam tumbuhan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana tumbuhan itu tumbuh. Lingkungan yang baik dikatakan meliputi iklim, ketinggian tempat, keadaan tanah, curah hujan, dan pemeliharaan yang tepat sehingga dapat dapat mempengaruhi senyawa aktifnya.
Sebenarnya kadar tanin dalam metabolisme tanaman masih bersifat spekulatif, tetapi kemungkinan sebagai pelindung pada masa pertumbuhan tertentu yang akhirnya akan rusak/diendapkan sebagai metabolisme didalam jaringan yang telah mati dan beberapa bagian tanaman tua.

KESIMPULAN
Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kadar tanin dalam ekstrak kulit buah kakao dengan pelarut air panas pada suhu 70o C yang terbesar diperoleh pada waktu ekstraksi 4 jam sebesar 2,02 % dan terendah 1,16 % diperoleh dengan waktu ekstraksi 2 jam.

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, S. Suminar.1989.Tanin Sebagai Perekat Alami .Bahan seminar HKI. Ujung pandang.

Basuki dan Tampubolong.1982. Pembuatan Tanin dari Bahan yang Mengandung penyemak. Laporan penelitian. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri. Medan.

Browning.B.L.1980. Methides of Wood Chemistry Vol.I. Interscienence Publisher. New York.

Chairil anwar, dkk. 1994. Pengantar praktikum kimia organic. Yogyakarta.

JB.Harburne. 1987. metode fotokimia penuntu cara modern menganalisis tumbuhan. ITB. Bandung.

Mann.1981. Teknik Penyamak Kulit Pedesaan. (penerjemah : Muljono Judoamidjoyo). Cetakan pertama. Penerbit Angkasa Bandung. Bandung.

Peterson. M.S dan Arnold. HJ. 1978. Pemamfaatan Kulit dan Biji Rambutan. Departemen Perindustrian.Banjar Baru.

Poulu. Monitto.1992. biosintesis Produk alami. Cetakan pertama. Semarang. IKIP. Semarang

Rohadjo. 1997. Penelitian Pemisahan dan Analisa Tanin dari Kulit Bakau. Balai penelitian dan pengembangan industri makassar.

Saleng, R. 1992. Kadar Ekstrak Tanin Pada Beberapa Jenis Bahan. Skripsi. UNHAS. Ujung pandang.

Sudarmadji. 1989. prosedur analisa bahan makanan dan pertanian. CV Liberti. Yogyakarta

Tungadi , LG. 1986. Mempelajari Pengaruh Konsentrasi Larutan Perendaman Tanin dan Waktu Perendaman Terhadap Mata Telur Itik Selama Penyimpanan. Skripsi. UNHAS. Ujung Pandang

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: